Populasi Tiongkok terus menurun dari tahun ke tahun seiring melambatnya perekonomian di negara tersebut. (EPA)
Krisis Demografi Memburuk, Angka Kelahiran di Tiongkok Terendah Sejak 1949
Willy Haryono • 19 January 2026 14:58
Beijing: Tingkat kelahiran di Tiongkok turun ke level terendah sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, menurut data resmi terbaru. Penurunan ini memperdalam tekanan demografis di tengah upaya pemerintah mendorong pembentukan masyarakat yang lebih ramah keluarga.
Dikutip dari TRT World, Senin, 19 Januari 2026, data Biro Statistik Nasional Tiongkok menunjukkan angka kelahiran pada 2025 turun menjadi 5,6 per 1.000 penduduk.
Jumlah bayi yang lahir tercatat hanya 7,9 juta, turun 1,6 juta dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menjadi penurunan paling tajam sejak 2020, seperti dilaporkan Bloomberg.
Penurunan kelahiran tersebut turut mendorong penyusutan jumlah penduduk Tiongkok sebanyak 3,4 juta jiwa, menandai tahun keempat berturut-turut populasi negara itu mengalami penurunan. Total populasi Tiongkok pada 2024 tercatat sekitar 1,4 miliar jiwa, melanjutkan tren penurunan sejak 2021.
Angka tersebut menjadi pukulan bagi kebijakan Presiden Xi Jinping yang mendorong terciptanya masyarakat “ramah fertilitas”. Pemerintah pusat dan daerah telah meluncurkan berbagai insentif, mulai dari subsidi tunai, perpanjangan cuti melahirkan, hingga dukungan pengasuhan anak, namun dampaknya masih terbatas.
Tiongkok juga mencatat jumlah pernikahan terendah sejak 1980. Sepanjang 2024, hanya 6,1 juta pasangan yang menikah, turun 20,5 persen dibandingkan 2023, sementara angka perceraian justru meningkat 1,1 persen.
Otoritas menilai tren ini dipicu oleh berkurangnya jumlah perempuan usia subur, serta kecenderungan generasi muda menunda pernikahan dan memiliki anak akibat tekanan ekonomi dan sosial.
Ekonomi Tetap Tumbuh 5 Persen
Di sisi lain, perekonomian Tiongkok tetap menunjukkan pertumbuhan stabil. Data resmi menunjukkan ekonomi Tiongkok tumbuh 5 persen pada 2025, sesuai target pemerintah.Berdasarkan laporan Biro Statistik Nasional Tiongkok, produk domestik bruto (PDB) China melampaui 140 triliun yuan atau sekitar 20 triliun dolar AS. Capaian tersebut menempatkan Tiongkok, ekonomi terbesar kedua dunia, tetap berada di jalur target meski menghadapi lemahnya permintaan domestik, tekanan deflasi, perlambatan sektor properti, serta ketidakpastian eksternal terkait kebijakan tarif Amerika Serikat.
Baca juga: Tiongkok Makin Pusing usai Rilis Penurunan Angka Pernikahan di 2024