Ekonomi Iran Hadapi Tekanan Ganda: Inflasi Tinggi dan Runtuhnya Mata Uang

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Ekonomi Iran Hadapi Tekanan Ganda: Inflasi Tinggi dan Runtuhnya Mata Uang

Eko Nordiansyah • 16 January 2026 13:55

Teheran: Ekonomi Iran tengah menghadapi periode sulit dengan inflasi tahunan di atas 40 persen, nilai tukar rial yang anjlok, dan tekanan sanksi internasional. Krisis ini memicu gelombang protes nasional sejak 28 Desember 2025, dimulai dari para pedagang di Teheran yang mogok menuntut perbaikan kondisi ekonomi, kemudian meluas ke berbagai kota dengan melibatkan buruh, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Dikutip dari Anadolu Agency, Jumat, 16 Januari 2026, Presiden Masoud Pezeshkian mengakui "kekurangan dan masalah" ekonomi yang terjadi dan berjanji mengatasi keresahan rakyat.

Namun, data menunjukkan situasi semakin kritis, rial merosot dari 817 ribu per dolar AS awal 2025 menjadi 1,5 juta di pasar paralel akhir tahun, kehilangan hampir 800 persen nilainya sejak 2020. Inflasi pangan bahkan mencapai 58 persen pada September 2025, dengan harga buah naik 75 persen dan bahan pokok seperti roti hampir dua kali lipat.

Dampak sanksi dan defisit fiskal

Sanksi AS membatasi akses Iran ke sistem keuangan global dan ekspor minyak, penyumbang utama penerimaan negara. Produksi minyak turun 100 ribu barel per hari pada akhir 2025, sementara ekspor total diproyeksikan turun 16 persen menjadi USD100 miliar pada tahun yang sama.

Defisit anggaran membengkak dari 4,1 persen PDB pada 2024 menjadi diperkirakan 6,2 persen pada 2026, mencerminkan lemahnya penerimaan dan tekanan belanja subsidi.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Iran hanya 0,3–0,6 persen pada 2025, melambat drastis dari 5,3 persen pada 2023. Meski tingkat pengangguran resmi turun menjadi 7,2–8,2 persen, pengangguran pemuda tetap kritis di angka 20–23 persen.

Daya beli masyarakat tergerus inflasi yang dipicu biaya impor melonjak akibat pelemahan rial, sementara bantuan tunai pemerintah tidak lagi memadai.

Protes dan ketidakpastian ke depan

Protes ekonomi telah menimbulkan korban jiwa signifikan. Lembaga HAM berbasis AS HRANA memperkirakan 2.615 tewas (termasuk aparat dan pengunjuk rasa), 2.054 luka, dan 18.470 ditahan.

Pemerintah berupaya menstabilkan situasi melalui intervensi pasar valuta asing dan subsidi, namun efektivitasnya terbatas di tengah isolasi finansial.

Tanpa perubahan kebijakan signifikan atau pelonggaran sanksi, prospek pemulihan ekonomi Iran tetap suram. Krisis ini tidak hanya menguji ketahanan pemerintahan saat ini, tetapi juga menunjukkan kerentanan ekonomi yang bergantung pada satu komoditas dan rentan terhadap gejolak geopolitik global. Masyarakat Iran diprediksi akan terus menghadapi tekanan hidup berat dalam beberapa tahun mendatang. (Muhammad Adyatma Damardjati)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)