Konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Foto: Metro TV/Richard Alkhalik.
Perry Warjiyo Bongkar Strategi BI Tahan Gejolak Rupiah
Richard Alkhalik • 7 May 2026 22:40
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan konsisten menerapkan bauran kebijakan yang terukur. Salah satunya dengan menahan suku bunga acuan atau BI-rate di level 4,75 persen selama rentang Januari hingga April 2026.
Hal tersebut dipaparkan Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2026 di Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Ia menjelaskan, ketahanan nilai tukar rupiah terus dijaga dan tingkat pelemahannya tergolong sepadan jika dikomparasikan dengan mata uang negara lain. Sebelumnya Perry telah menginstruksikan tujuh langkah untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1 persen.

Konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Foto: Metro TV/Richard Alkhalik.
BI pastikan ketersediaan likuiditas
Serangkaian langkah intervensi tersebut terukur, mulai dari operasi valas berlapis di pasar domestik maupun global, penguatan suku bunga SRBI, hingga pembelian SBN senilai Rp123,1 triliun sebagai wujud sinergi fiskal-moneter.
Selain itu, Bank Indonesia juga memastikan ketersediaan likuiditas dengan mematok pertumbuhan uang primer di atas 10 persen dan memperdalam pasar uang mengacu pada Blueprint Pendalaman Pasar Uang (BPPU) 2030.
Sementara dari sisi regulasi, Perry mengatakan BI juga akan terus bersinergi dengan OJK untuk memperketat pengawasan terhadap terhadap bank dan korporasi pembelian dolar AS, serta memperkuat ambang batas pelaporan Lalu Lintas Devisa (LLD) ke luar negeri menjadi USD50 ribu yang efektif sejak April 2026.
"Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran didukung oleh pendalaman pasar uang untuk memastikan stabilitas dan eksternal ekonomi yang kuat dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi," jelas dia.