Ilustrasi Kurban Digital. Sumber: BSI
Kekurangan dan Kelebihan Kurban Digital, Mempermudah atau Masalah?
Muhamad Marup • 25 May 2026 18:08
Jakarta: Berkurban menjadi momen spesial dalam perayaan Hari Raya Iduladha. Perkembangan teknologi yang semakin pesat berpengaruh dalam pelaksanaan ibadah kurban salah satunya kemunculan platform kurban digital.
Dosen Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR), Tika Widiastutim, menilai, kurban digital memiliki sistem yang lebih transparan dan mudah diakses. Perkembangan itu juga menunjukkan bahwa ekonomi syariah mulai beradaptasi dengan teknologi modern tanpa meninggalkan prinsip syariah.
"Perkembangan platform kurban digital di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup pesat. Hal itu didukung dengan meningkatnya literasi digital masyarakat, kemudahan pembayaran online, dan tren filantropi islam berbasis aplikasi," ujar Tika, mengutip laman resmi Unair, Senin, 25 Mei 2026.
Kurban Digital dari Sisi Syariat
Tika menerangkan, dari sisi syariat, kurban digital pada dasarnya diperbolehkan selama memenuhi rukun dan syarat kurban. Terutama terkait akad wakalah atau pelimpahan kuasa kepada lembaga atau platform untuk membeli, menyembelih, dan mendistribusikan hewan kurban.Meski demikian, ia menilai, model bisnis platform kurban digital belum sepenuhnya selaras dengan prinsip ekonomi syariah karena masih ada tantangan terkait transparansi harga, kejelasan akad, pengelolaan dana, hingga potensi komersialisasi ibadah. Menurutnya, butuh regulasi yaitu standar pengawasan syariah serta transparansi operasional platform kurban digital.
"Regulasi tersebut penting untuk mengatur kejelasan akad, perlindungan konsumen, standar distribusi, audit syariah, keamanan transaksi digital, serta pelaporan penggunaan dana agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga di tengah perkembangan layanan kurban digital yang semakin cepat," katanya.
Jawab Perbedaan Pendapat
Tika mengungkapkan, masih terjadi perbedaan antara pendapat ulama terhadap aspek musyahadah atau penyaksian penyembelihan. Sebagian ulama memandang penyaksian langsung tidak wajib sehingga dokumentasi digital sudah cukup."Sedangkan sebagian lain lebih menekankan pentingnya keterlibatan emosional dan spiritual dalam ibadah kurban," tambahnya.
Ia menyarankan, platform kurban digital bukan hanya fokus pada aspek bisnis. Platform perlu menjelaskan akad yang digunakan, proses penyembelihan, dokumentasi distribusi, serta menyediakan pilihan layanan bagi masyarakat yang ingin menyaksikan proses kurban secara langsung melalui live streaming atau laporan visual.
"Platform kurban digital harus menyikapi perbedaan pendapat ulama dengan pendekatan terbuka dan edukatif," tuturnya.

ilustrasi sapi kurban, dok: freepik
Kontribusi Kurban Digital
Tika berpendapat, kurban digital cukup berkontribusi dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah. Selain itu, platform digital terbukti membantu memperluas distribusi kurban ke daerah terpencil atau wilayah yang minim distribusi hewan kurban."Contohnya seperti memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan ibadah berbasis digital, meningkatkan transaksi ekonomi halal, dan memperkuat integrasi antara teknologi dengan keuangan syariah," jelasnya..
Potensi integrasi kurban digital dengan instrumen syariah lain sangat besar. Misalnya dikombinasikan dengan zakat digital, sedekah online, atau wakaf produktif dalam satu ekosistem platform Islam digital.
Selain itu, agar digitalisasi kurban tidak meminggirkan peternak lokal kecil, platform perlu membangun kemitraan langsung dengan peternak daerah, bukan hanya bekerja sama dengan supplier besar.
"Platform juga perlu memastikan harga beli yang adil, pembinaan kualitas ternak, serta pemberdayaan peternak lokal agar mereka tetap menjadi bagian utama dalam rantai ekonomi kurban digital," ungkapnya.