Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari. (Anadolu Agency)
Qatar Bantah Tawarkan Rp212 Triliun kepada Iran demi Kesepakatan dengan AS
Muhammad Reyhansyah • 26 May 2026 13:11
Doha: Pemerintah Qatar membantah laporan yang menyebut negaranya menawarkan USD12 miliar atau setara Rp212 triliun kepada Iran guna memastikan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang hingga kini negosiasinya masih berjalan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari mengatakan laporan tersebut sama sekali tidak berdasar.
"Informasi yang mengklaim Negara Qatar 'menawarkan' USD12 miliar kepada Iran demi memastikan tercapainya kesepakatan sepenuhnya tidak benar," tulis Al Ansari di platform media sosial X, dikutip dari Anadolu, Selasa, 26 Mei 2026.
Ia mengatakan narasi tersebut disebarkan pihak-pihak yang ingin menggagalkan kesepakatan serta merusak upaya diplomatik untuk menurunkan ketegangan dan menjaga stabilitas kawasan.
Al Ansari juga menegaskan peran diplomatik Qatar bersama mitra regional sudah dikenal luas dan terdokumentasi secara publik.
Menurutnya, tuduhan itu hanyalah upaya putus asa untuk mencoreng reputasi Qatar sebagai mediator perdamaian internasional yang dipercaya.
Diplomasi Iran-Qatar Menguat
Pernyataan Qatar muncul ketika sejumlah pejabat tinggi Iran melakukan kunjungan ke Doha di tengah intensifnya dorongan diplomatik untuk menyelesaikan kesepakatan.Media Iran melaporkan Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati tiba di Qatar pada Senin. Kunjungan tersebut dilakukan setelah delegasi Qatar berkunjung ke Teheran pekan lalu untuk membahas aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Televisi pemerintah Iran IRIB menyebut pembicaraan itu berkaitan dengan dana Iran yang dibekukan di Qatar.
Iran diketahui meminta pencairan aset-aset tersebut sebagai bagian dari negosiasi yang dimediasi Pakistan dengan Amerika Serikat. Laporan sebelumnya menyebut nilai total dana Iran yang dibekukan di Qatar mencapai sekitar USD12 miliar.
Ketegangan Kawasan Memanas
Ketegangan kawasan meningkat sejak 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah target di kawasan serta menutup Selat Hormuz.Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil tetap mempertahankan blokade terhadap kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.
Pekan lalu, Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran sebagian besar telah dinegosiasikan dan kini menunggu finalisasi.
Baca juga: Pakistan dan Qatar Bantu Mediasi Kesepakatan Interim AS-Iran di Teheran