Trump Disebut Demensia, Kenali Ciri, Penyebab, dan Gejalanya

Presiden AS Donald Trump. Foto: dok EPA-EFE.

Trump Disebut Demensia, Kenali Ciri, Penyebab, dan Gejalanya

Riza Aslam Khaeron • 14 April 2026 16:16

Jakarta: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat dari Partai Demokrat baru-baru ini menyoroti dugaan penurunan kognitif yang dialami presiden, Donald Trump. Sejumlah anggota parlemen menyatakan kekhawatiran terkait indikasi demensia yang dinilai muncul dalam beberapa waktu terakhir.
 
Melansir media lokal AS, 9News, salah satu tokoh Demokrat paling terkemuka di Kongres, Jamie Raskin, telah menyurati dokter Gedung Putih, Sean Barbabella, untuk menuntut agar Donald Trump menjalani tes kognitif.

"Para ahli telah berulang kali memperingatkan bahwa Presiden menunjukkan tanda-tanda yang selaras dengan demensia dan penurunan kognitif," tulisnya.

Pernyataan ini memicu perdebatan luas di Capitol Hill mengenai transparansi data medis Donald Trump. Menanggapi tudingan tersebut, Gedung Putih menegaskan bahwa presiden dalam kondisi prima dan menyebut pernyataan tersebut sebagai manuver politik semata.

Lantas, apa itu demensia dan gejala apa yang biasanya muncul? Mengutip laman rsa.ugm.ac.id, berikut penjelasannya!

Apa Itu Demensia?

Demensia merupakan penyakit degeneratif yang bersifat progresif (memberat secara perlahan), disebabkan oleh kerusakan sel saraf otak yang dapat mengakibatkan penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat, berpikir, bernalar, dan bahasa yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kondisi ini sering kali disebut pikun dan umumnya menyerang lanjut usia (lansia) di atas 65 tahun dengan penyakit Alzheimer sebagai penyebab terbanyak.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), saat ini lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia dan angka ini diproyeksikan akan terus meningkat menjadi 78 juta pada 2030 dan 139 juta pada 2050.

Sementara itu, menurut World Alzheimer Report tahun 2019, sekitar 1,8 juta orang Indonesia menderita demensia dan angka tersebut akan terus meningkat menjadi 7,5 juta orang pada 2050.
 

Penyebab Demensia

Penyakit Alzheimer merupakan penyebab demensia yang paling umum dan berkontribusi pada 60-70 persen kasus. Namun, selain Alzheimer terdapat penyebab lain yang dapat memicu penyakit ini, di antaranya:
  1. Demensia vaskular, disebabkan oleh komplikasi penyakit kronis seperti diabetes mellitus, stroke, dan hipertensi.
  2. Demensia dengan badan Lewy, kondisi penumpukan protein abnormal alpha-synuclein dalam sel saraf otak.
  3. Degenerasi bagian frontalis dari otak.
  4. Cedera atau trauma kepala.
  5. Kekurangan zat nutrisional, terutama asam folat dan vitamin B12.
  6. Infeksi HIV.

Ilustrasi Pexels


Selain itu, terdapat berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya demensia, antara lain:
  1. Berat badan yang berlebih.
  2. Kurangnya aktivitas fisik.
  3. Konsumsi alkohol.
  4. Kebiasaan merokok.
  5. Kurangnya interaksi sosial.
  6. Depresi.

Tanda dan Gejala Demensia

Terdapat 10 tanda dan gejala peringatan yang umum dijumpai pada penderita demensia Alzheimer, di antaranya:
  1. Kehilangan memori dan gangguan daya ingat.
  2. Sulit fokus.
  3. Sulit melakukan kegiatan familiar.
  4. Disorientasi terhadap waktu dan tempat.
  5. Kesulitan dalam memahami informasi visual dan spasial.
  6. Gangguan berkomunikasi.
  7. Menaruh barang tidak pada tempatnya.
  8. Salah membuat keputusan.
  9. Menarik diri dari pergaulan.
  10. Perubahan perilaku dan kepribadian. 
Baca Juga:
Diduga Mengalami Gejala Demensia, DPR AS Desak Trump Jalani Tes Kognitif
 

Bagaimana Cara Menyembuhkan Demensia?

Hingga saat ini belum ada terapi obat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan demensia. Namun, terdapat penanganan non-farmakologis yang dapat dilakukan jika seseorang terdiagnosis demensia, antara lain:
  1. Mengonsumsi asupan makanan bergizi dan menghindari makanan olahan.
  2. Berolahraga dan melakukan aktivitas fisik.
  3. Mengasah kemampuan otak dan melakukan hobi yang disukai.
  4. Mengontrol kondisi kesehatan jantung.
  5. Menjaga hubungan antarmanusia untuk mengurangi risiko depresi.
  6. Tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol.
  7. Menjaga kualitas dan kuantitas tidur yang baik.
Demikian informasi seputar dugaan penyakit demensia yang dialami Donald Trump. Mari terapkan gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit ini.

(Surya Mahmuda)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)