IFJ Catat 128 Jurnalis Tewas Sepanjang 2025 di Seluruh Dunia

Jurnalis di Gaza paling banyak terancam. Foto: EFE

IFJ Catat 128 Jurnalis Tewas Sepanjang 2025 di Seluruh Dunia

Muhammad Reyhansyah • 1 January 2026 17:05

Brussels: Sebanyak 128 jurnalis dilaporkan tewas di berbagai belahan dunia sepanjang 2025, dengan lebih dari separuh korban berasal dari kawasan Timur Tengah. Data tersebut disampaikan International Federation of Journalists (IFJ) pada Kamis, 1 Januari 2026.

Sekretaris Jenderal IFJ Anthony Bellanger menegaskan bahwa angka tersebut mencerminkan situasi yang sangat mengkhawatirkan. 

“Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan peringatan darurat global bagi rekan-rekan kami,” ujarnya kepada AFP, seperti dikutip Hurriyet Daily News, Kamis, 1 Januari 2026.

IFJ secara khusus menyoroti kondisi di wilayah Palestina, yang mencatat 56 pekerja media tewas sepanjang 2025 seiring berlanjutnya perang Israel melawan Hamas di Jalur Gaza. Menurut Bellanger, skala kekerasan terhadap jurnalis di wilayah tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kami belum pernah menyaksikan situasi seperti ini: begitu banyak kematian dalam waktu yang sangat singkat dan di wilayah yang begitu kecil,” kata Bellanger.

Selain di Palestina, IFJ juga mencatat kematian jurnalis di sejumlah negara lain, termasuk Yaman, Ukraina, Sudan, Peru, dan India.

Bellanger mengecam apa yang ia sebut sebagai praktik impunitas terhadap pelaku kekerasan terhadap jurnalis. Ia memperingatkan bahwa ketiadaan keadilan justru memperbesar risiko serangan serupa di masa depan. 

“Tanpa penegakan hukum, hal itu memungkinkan para pembunuh jurnalis terus bertindak,” ujarnya.

Di luar kasus kematian, IFJ juga melaporkan bahwa sebanyak 533 jurnalis saat ini dipenjara di seluruh dunia, jumlah yang lebih dari dua kali lipat dibandingkan lima tahun lalu. Tiongkok kembali tercatat sebagai negara dengan jumlah jurnalis dipenjara terbanyak, yakni 143 orang, termasuk di Hong Kong. 

Otoritas di wilayah tersebut sebelumnya menuai kritik dari negara-negara Barat atas penerapan undang-undang keamanan nasional yang dinilai membungkam perbedaan pendapat.

IFJ menjelaskan bahwa metode penghitungan mereka biasanya menghasilkan angka korban lebih tinggi dibandingkan organisasi lain, seperti Reporters Without Borders, karena perbedaan kriteria pencatatan. Dari total korban tahun ini, IFJ memasukkan sembilan kematian yang dikategorikan sebagai kecelakaan.

Sebagai perbandingan, Reporters Without Borders mencatat 67 jurnalis tewas saat menjalankan tugas pada 2025, sementara Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) melaporkan jumlah korban mencapai 93 orang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com