Petugas kesehatan menangani wabah Ebola di RD Kongo. (Anadolu Agency)
Ebola di RD Kongo Tewaskan 648 Orang, Total Kasus Lampaui 1.800
Willy Haryono • 11 July 2026 15:41
Kinshasa: Jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo telah melampaui 1.800 kasus, sementara wabah tersebut kini menyebar ke provinsi keempat di wilayah timur laut negara itu.
Berdasarkan pembaruan situasi yang dirilis Kementerian Kesehatan Kongo pada Sabtu, 11 Juli 2026, total kasus Ebola sejak wabah diumumkan pada 15 Mei telah mencapai 1.830 kasus, termasuk 648 kematian.
Dikutip dari media Anadolu Agency, Sabtu, 11 Juli 2026, sebanyak 780 pasien saat ini masih menjalani perawatan, sementara 284 orang lainnya dinyatakan telah sembuh dari penyakit tersebut.
Sejauh ini, penyebaran wabah terutama terkonsentrasi di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
Kementerian Kesehatan menyatakan respons terhadap Ebola terus diperkuat di ketiga wilayah tersebut melalui peningkatan koordinasi nasional, pengawasan epidemiologi, serta mobilisasi masyarakat.
Namun, pada Jumat, otoritas kesehatan melaporkan wabah telah menyebar ke Provinsi Haut-Uele setelah tujuh kasus fatal dikonfirmasi di zona kesehatan Wamba.
Perkembangan tersebut menandai meluasnya wabah ke wilayah baru di bagian timur laut Kongo.
Berbagai negara donor dan organisasi internasional sejauh ini telah menjanjikan bantuan senilai USD910 juta untuk mendukung penanganan Ebola di Kongo dan Uganda.
Di negara tetangga Uganda, otoritas melaporkan telah menemukan 20 kasus Ebola yang terkait dengan wabah tersebut.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) pada Jumat mengatakan pihaknya terus memperkuat respons di Kongo melalui pengerahan tim ahli multidisiplin ke zona-zona kesehatan prioritas yang mencakup sekitar 83 persen dari seluruh kasus yang tercatat.
Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya mengatakan wabah Ebola saat ini menjadi pengingat bahwa setiap keterlambatan dalam respons dapat mengakibatkan hilangnya lebih banyak nyawa.
"Itulah sebabnya kemampuan Afrika untuk mendeteksi, merespons, dan mengendalikan wabah harus dibangun di tempat ancaman kesehatan muncul, yakni di tingkat komunitas, melalui tenaga kesehatan yang dipercaya masyarakat, sistem pengawasan yang kuat, dan akses pendanaan yang cepat," kata Kaseya melalui platform X.
Dua hari setelah wabah diumumkan di Kongo, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola yang disebabkan oleh strain Bundibugyo tersebut sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).
Baca juga: Wabah Ebola di Kongo: Sejarah, Penyebab, dan Update Korban Tewas