Head of Asia Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan (kedua dari kiri). Foto: Metrotvnews/Surya Mahmuda.
World Gold Council: Emas Mahal, Minat Beli Perhiasan Dunia Menyurut
Ade Hapsari Lestarini • 4 February 2026 21:57
Jakarta: Rekor harga emas yang terus membumbung tinggi akhirnya memukul minat beli konsumen secara global. Laporan terbaru World Gold Council (WGC) mencatat volume permintaan perhiasan global merosot hingga 18 persen sepanjang 2025. Tren pelemahan ini bahkan terasa lebih berat di Indonesia, dengan permintaan perhiasan emas anjlok hingga 27 persen akibat terbatasnya daya beli masyarakat.
Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks WGC Shaokai Fan menjelaskan, meski secara volume permintaan menurun, nilai total permintaan perhiasan emas justru meningkat 18 persen secara tahunan mencapai USD172 miliar. Hal ini menunjukkan emas masih menjadi instrumen aset yang relevan dalam jangka panjang.
"Saat harga emas naik, permintaan perhiasan emas justru menurun. Penurunan ini mencapai 18 persen secara global," ungkap Shaokai dalam laporan Gold Demand Trend Q4&Full-Year 2025, Rabu, 4 Februari 2026.
Tak hanya secara global, tren pelemahan ini turut terasa di Indonesia. Permintaan perhiasan di Tanah Air merosot 27 persen menjadi 16,6 ton. Shaokai menjelaskan, penurunan ini bukan disebabkan oleh hilangnya minat masyarakat, melainkan murni karena keterbatasan daya beli akibat harga yang melambung.
"Di Indonesia trennya juga kurang lebih sama, hal ini karena perhiasan emas dikategorikan sebagai barang mewah. Jadi secara nilai sebetulnya mungkin naik karena harga emasnya meningkat, tapi di sisi lain daya beli masyarakat terhadap perhiasan yang semakin mahal justru semakin menurun," ungkap dia.

Ilustrasi. Foto: dok MI.
Masyarakat pilih beli emas kadar rendah
Senior Research Lead APAC, Marissa Salim mengungkapkan, untuk menyiasati melonjaknya harga emas, konsumen Indonesia mulai beralih ke emas dengan kadar di bawah 14 karat. Hal ini bertujuan agar konsumen tetap bisa mengoleksi emas dengan harga yang terjangkau.
"Saat ini dari sisi pembeli mereka cenderung lebih berminat pada perhiasan yang memiliki kadar karat lebih rendah, misalnya yang di bawah 14 karat. Alasannya karena kategori tersebut lebih terjangkau dan mudah didapat," ungkap Marissa, dalam laporan Gold Demand Trend Q4&Full-Year 2025, Rabu, 4 Februari 2026.
Marissa menambahkan, meskipun harga tinggi menekan volume pembelian, emas tetap menjadi kebutuhan budaya yang esensial di Indonesia, terutama pada momen perayaan seperti Idulfitri. Dukungan dari Tunjangan Hari Raya (THR) memungkinkan emas tetap menjadi pilihan utama untuk tabungan jangka panjang.
"Di Indonesia permintaan perhiasan lebih tinggi pada kuartal keempat, mereka lebih memilih periode Idulfitri dan hal-hal yang sifatnya hari raya," jelas Marissa dalam laporan tren permintaan emas kuartal keempat dan sepanjang 2025. (Surya Mahmuda)