Iran menyatakan angkatan bersenjata negara-negara Eropa sebagai organisasi teroris sebagai respons atas keputusan serupa Uni Eropa. (Anadolu Agency)
Iran Tetapkan Angkatan Bersenjata Eropa sebagai Organisasi Teroris
Muhammad Reyhansyah • 2 February 2026 10:07
Teheran: Ketua Parlemen Iran menyatakan bahwa angkatan bersenjata negara-negara Eropa kini dianggap sebagai “organisasi teroris” berdasarkan hukum Iran. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas langkah Uni Eropa yang menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai kelompok teroris.
Seperti dilaporkan kantor berita Fars News Agency, pernyataan itu disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam sidang parlemen.
“Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Penanggulangan Penetapan Korps Garda Revolusi Islam sebagai Organisasi Teroris, angkatan bersenjata negara-negara Eropa dianggap sebagai kelompok teroris,” ujar Ghalibaf, dilansir dari Anadolu Agency, Senin, 2 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa “konsekuensi dari tindakan ini akan menjadi tanggung jawab Uni Eropa.”
Dalam sidang yang sama, sejumlah anggota parlemen Iran tampak mengenakan seragam IRGC sebagai bentuk protes terhadap apa yang mereka sebut sebagai “tindakan bermusuhan” Uni Eropa dalam menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris.
Ghalibaf mengecam keputusan Uni Eropa tersebut sebagai “tindakan tidak bertanggung jawab”. Ia menilai langkah itu diambil “sejalan dengan arahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para pemimpin rezim Zionis (Israel)."
Menurut Ghalibaf, keputusan tersebut justru “mempercepat marginalisasi Eropa dalam tatanan global masa depan”. Ia juga menuding para pendukung Zionisme menjalankan “perang psikologis berbasis media” untuk mengintimidasi Iran dan negara-negara yang ia sebut independen.
Meski demikian, Ghalibaf menegaskan bahwa rakyat Iran memandang IRGC sebagai bagian dari masyarakat. Ia menyebut korps tersebut berperan penting dalam menjaga keamanan nasional serta terlibat dalam berbagai penanganan krisis, mulai dari bencana alam seperti banjir dan gempa bumi, pandemi Covid-19, hingga program rekonstruksi dan pengentasan kemiskinan.
“Serangan-serangan semacam ini hanya akan memperkuat kohesi sosial dan dukungan publik terhadap IRGC dalam membela martabat dan keamanan nasional Iran,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah para menteri luar negeri Uni Eropa pada Kamis mencapai kesepakatan politik untuk menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris. Keputusan itu diumumkan oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, yang menyebut langkah tersebut sebagai respons atas apa yang ia gambarkan sebagai tindakan represif otoritas Iran.
Di sisi lain, ketegangan antara Teheran dan Washington turut meningkat dalam beberapa pekan terakhir, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai pergerakan “armada besar” menuju Iran, disertai seruan agar Teheran kembali ke meja perundingan.
Pejabat Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika Serikat akan dibalas dengan respons yang “cepat dan menyeluruh." Meski demikian, Teheran menegaskan tetap terbuka untuk berunding, asalkan dilakukan dengan syarat yang mereka sebut “adil, seimbang, dan tanpa paksaan."
Baca juga: Uni Eropa Tetapkan Garda Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris