Pemberian bantuan biaya hidup ke mahasiswa asal NTT di Yogyakarta. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Pemprov DIY Siapkan Bantuan Pendidikan Mahasiswa Asal NTT Terdampak Gempa
Ahmad Mustaqim • 19 August 2026 21:20
Yogyakarta: Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 turut menimbulkan kecemasan bagi mahasiswa asal NTT yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Terputusnya aliran listrik dan jaringan komunikasi membuat sebagian mahasiswa kesulitan memastikan kondisi keluarga di kampung halaman.
Salah satunya dialami Vansianus Masir. Mahasiswa Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) APMD Yogyakarta itu mengetahui kabar gempa saat membuka WhatsApp pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
Pria yang akrab disapa Ancik tersebut langsung menghubungi ibunya setelah melihat informasi gempa melalui status WhatsApp. Namun, komunikasi tidak berjalan lancar karena infrastruktur di kampung halamannya ikut terdampak.
"Langsung saya telepon Mama. Listrik baru menyala tanggal 17, dua hari setelah gempa. Kampung saya kan di atas bukit, nah di bagian Baratnya ada lereng. Akibat gempa kemarin tanahnya itu luruh sehingga rumah-rumah di bagian barat itu rusak," kata Ancik di Yogyakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ancik menyebut kampung halamannya di Desa Wangkarweli, Kecamatan Lambaleda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, menjadi salah satu wilayah yang terdampak gempa berkekuatan magnitudo 7,7.
Kerusakan infrastruktur membuat komunikasi dengan keluarga semakin sulit. Kondisi tersebut menambah beban pikiran Ancik yang tengah menjalani semester 8 dan fokus menyelesaikan skripsi.
Ia juga menghadapi persoalan kebutuhan sehari-hari selama menunggu kabar dari keluarga. Ancik mengaku tidak tega meminta kiriman uang kepada keluarganya di tengah situasi bencana.
"Saya kemarin pesan nasi darurat itu. Mama belum aktif (belum bisa diajak komunikasi), kemungkinan sendirian di rumah, adik-adik di Surabaya, bapak sudah tidak ada," ujarnya.
Ancik berusaha tetap tenang sembari menunggu kabar dari ibunya. Ia menduga sang ibu belum dapat berkomunikasi karena keterbatasan listrik maupun akses internet.
"Saya bertahan hidup ngebon (utang) ke warmindo (salah satu jenis warung makan di Yogyakarta)," kata dia.

Penanganan gempa NTT. Foto: Dok. BNPB.
Kondisi serupa dialami Cornelisiano Ligi Longa, mahasiswa asal NTT yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Cornelisiano sedikit lebih tenang setelah mengetahui keluarganya dalam keadaan selamat. Namun, komunikasi dengan keluarga masih terkendala. Ia menduga gangguan listrik turut memengaruhi jaringan komunikasi di wilayah tempat keluarganya berada.
"Mungkin kendala dengan listrik, Mama saya tinggal di kota, terakhir komunikasi sebelum berangkat ke sini," kata Cornelisiano.
Situasi tersebut membuat mahasiswa asal NTT di Yogyakarta harus menghadapi kekhawatiran sekaligus persoalan kebutuhan selama keluarga mereka terdampak bencana.
Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyiapkan dukungan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT, termasuk mahasiswa asal daerah tersebut yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.
Pemda DIY mengirimkan dana hibah senilai Rp1 miliar kepada Pemerintah Provinsi NTT. Selain bantuan untuk penanganan bencana, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyiapkan dukungan sosial dan akademik bagi mahasiswa asal NTT di Yogyakarta.
Sri Sultan meminta perguruan tinggi melakukan pendataan terhadap mahasiswa asal NTT yang keluarganya terdampak gempa. Pendataan tersebut akan menjadi dasar pemberian bantuan, keringanan, hingga pembebasan biaya pendidikan sesuai kebutuhan.
"Pemberian bantuan ini sudah jadi tradisi setiap ada gempa di manapun di wilayah Indonesia, kita bantu. Kita akan bicara mengenai biaya dan mendapatkan kemudahan akses agar tetap bisa melakukan pendidikan, sehingga mahasiswa yang di sini tetap bisa belajar di kampus," ujar Sri Sultan.
Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan dana hibah Rp1 miliar telah ditransfer langsung kepada Pemerintah Provinsi NTT.
Selain dana hibah, bantuan obat-obatan dan alat kesehatan senilai Rp38 juta juga disalurkan melalui sejumlah lembaga. Bantuan tersebut melibatkan Dinas Kesehatan dan BPBD DIY, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, serta Yakkum Emergency Unit. Dukungan juga diberikan untuk memenuhi kebutuhan pangan mahasiswa asal NTT yang tinggal di asrama.
"Kami juga menyalurkan bantuan makanan, khususnya ke mahasiswa yang tinggal di asrama, seperti beras, telur, dan bahan pokok pendamping. Bantuan diberikan selama empat bulan ke depan," ujar Ni Made.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan Pemda DIY bagi mahasiswa asal NTT yang terdampak situasi bencana, sekaligus membantu mereka tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari dan melanjutkan pendidikan selama penanganan gempa berlangsung.