Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono pada acara Metro TV Green Summit 2026-Accelerating Indonesia's Green Transition. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.
Kesadaran Masyarakat Memilah Sampah Lemah, Wamen LH: Proyek WtE Bisa Gagal!
Husen Miftahudin • 22 January 2026 12:45
Jakarta: Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH) Diaz Hendropriyono mengakui kesadaran masyarakat terhadap memilah sampah masih rendah. Kondisi ini mengkhawatirkan, mengingat proyek sampah jadi listrik atau Waste to Energy (WtE) bisa gagal total.
"Yang mau saya katakan, hanya dengan kesalahan kita, keengganan kita untuk memilah sampah, proyek waste to energy bisa gagal. Mungkin kelihatannya sepele (memilah sampah), tapi akibatnya sangat fatal," tutur Diaz dalam diskusi pada acara Metro TV Green Summit 2026-Accelerating Indonesia's Green Transition, di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.
Diaz menuturkan hal tersebut setelah mengecek langsung proyek WtE pada Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo, Solo. Di sana, cerita dia, generator PLTSa tidak berfungsi optimal lantaran sampah yang hendak diolah menjadi energi listrik terlalu basah akibat bercampur dengan sampah organik.
Diketahui, sampah yang cocok untuk WtE adalah yang memiliki kandungan energi tinggi, seperti plastik, kertas, hingga karton, karena dapat diubah menjadi panas untuk listrik atau bahan bakar alternatif. Sementara sampah organik lebih cocok diolah menjadi kompos dan pupuk sebagai sumber daya bernilai ekonomi dan ekologis.
"Jangan dikira semua sampah itu nanti ditaruh di (mesin pengolah) waste to energy, kita bakar, selesai, enggak! Jadi harus ada pemilahan ya, harus ada pemilahan," ucap Diaz menegaskan.
Dijelaskan lebih lanjut, pasokan sampah yang masuk ke dalam PLTSa Putri Cempo memiliki kadar air lebih dari 70 persen. Padahal pada spesifikasi mesin generator pengolahnya, pasokan sampah yang memenuhi syaratnya adalah sampah dengan kadar air di bawah 20 persen.
"Jadi harus dipilah, (sampah) yang organi, ya organik. Jangan basahh basah banget lah. Kalau basah basah banget, dia enggak bisa. Jadi kembali lagi di hulu, harus ada pemilihan yang ketat. Kalau tidak ada itu, waste to energy-nya tidak akan berjalan. Jadi, budaya untuk memilah sampah harus terus digalakkan," pinta Diaz.
| Baca juga: Danantara Dorong WtE Jadi Solusi Nasional Pengelolaan Sampah |

(Ilustrasi bak sampah sesuai kategori sampah untuk mendorong kesadaran masyarakat memilah sampah. Foto: dok Medcom.id)
WtE bakal dibangun di setiap daerah
WtE merupakan proyek ambisius pemerintah yang rencananya akan dibangun di 33 titik pada setiap daerah. Pada tahap awal, proyek ini akan dibangun di tujuh wilayah, yakni Tangerang, Bogor, Bekasi, Semarang, Yogyakarta, Medan dan Bali.
Sementara, PLTSa Putri Cempo merupakan salah satu proyek percontohan (pilot project) WtE di Indonesia untuk mengolah sampah menjadi listrik menggunakan teknologi gasifikasi dan wet pyrolysis.
Adapun, proyek WtE ini dijalankan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Pada prakteknya, pembangunan proyek PLTSa ini menggandeng investor swasta melalui skema kolaborasi pemerintah dan swasta.
CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan, pelibatan investor swasta untuk mengolah sampah menjadi energi listrik dilakukan guna dapat menggunakan teknologi terdepan, serta untuk memastikan transfer teknologi dan pembangunan berkelanjutan.
"Tujuh daerah yang sudah disetujui, diberikan green light oleh Menko Pangan dan juga oleh (Kementerian) Lingkungan Hidup. Karena, dari tujuh itu memang ketersediaan lahannya sudah ada, ketersediaan sampahnya cukup, dari infrastruktur juga jalan, maupun air juga sudah ada. Jadi, itu bisa diproses lebih lanjut," jelas Rosan.