Gempa di Flotim Akibat Sesar Aktif

Salah satu rumah yang hancur akibat gempa yang terjadi pada Kamis (9/4) dini hari, Kamis (9/4/2026). ANTARA/HO-BPBD Flores Timur

Gempa di Flotim Akibat Sesar Aktif

Media Indonesia • 9 April 2026 12:23

Flotim: Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT), diguncang dua kali gempa bumi tektonik, pada Rabu, 8 April hingga Kamis, 9 April 2026. Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengungkap gempa tersebut jenis dangkal. 

"Gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif," ujar Arief, Kamis, 9 April 2026.

Dia menjelaskan bahwa getaran dirasakan cukup kuat di wilayah Flores Timur dengan intensitas III–IV MMI dan di Lembata III MMI. Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seperti ada kendaraan berat yang melintas.

"Akibat peristiwa tersebut, sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan, terutama di Kecamatan Adonara Timur," jelas dia.

Gempa pertama terjadi pada Rabu, 8 April 2026, pukul 23.17 Wita dengan kekuatan magnitudo 4,7. Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa berada pada koordinat 8,36 derajat LS dan 123,15 derajat BT, atau sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka, dengan kedalaman 5 kilometer.

Beberapa jam kemudian, gempa susulan kembali terjadi pada Kamis, 9 April 2026, pukul 04.54 Wita dengan magnitudo 3,8. Episenter gempa susulan ini terletak pada koordinat 8,44 derajat LS dan 123,14 derajat BT, sekitar 24 kilometer tenggara Larantuka, dengan kedalaman lebih dangkal, yakni 3 kilometer.

Menurut Arief, gempa kedua tersebut merupakan bagian dari rangkaian aktivitas susulan dari gempa utama sebelumnya dan juga dipicu oleh sesar aktif di wilayah tersebut. Hingga \pukul 05.40 Wita, BMKG mencatat sebanyak 48 kali gempa susulan.

Dampak dari rangkaian gempa ini menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan di Kecamatan Adonara Timur, khususnya di Desa Terong. Namun, belum ada laporan korban jiwa.

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan, tidak mudah terpancing informasi yang tidak jelas sumbernya, serta terus mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG. (MI/PO) 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)