Bos BI: Gaji Ke-13 ASN dan Bansos Jaga Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Ilustrasi. Foto: dok Istimewa.

Bos BI: Gaji Ke-13 ASN dan Bansos Jaga Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Husen Miftahudin • 18 June 2026 15:52

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga baik didukung oleh permintaan domestik berkat pemberian gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan penyaluran bantuan sosial kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). 

"Konsumsi pemerintah tumbuh tinggi sejalan berlanjutnya realisasi program-program prioritas serta percepatan belanja pemerintah," jelas Perry dalam Pengumuman Hasil RDG Bulanan Periode Juni 2026, Rabu, 18 Juni 2026.

Perry menambahkan, konsumsi rumah tangga terjaga didorong dampak percepatan konsumsi Pemerintah dan keyakinan konsumen yang tetap baik. Investasi juga meningkat tecermin pada Purchasing Manager Index (PMI) yang berada pada zona ekspansi, terutama didukung investasi bangunan terkait proyek pemerintah. 

Sementara dari sisi eksternal, ekspor perlu terus didorong guna memanfaatkan tingginya harga komoditas dunia, di tengah melambatnya prospek pertumbuhan ekonomi global.

"Ke depan, berbagai program stimulus Pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat serta implementasi program prioritas terus dioptimalkan untuk mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari permintaan domestik," papar Perry.
 

Baca juga: BI Ogah Ubah Proyeksi, Pertumbuhan Ekonomi Global Tahun Ini Masih 3,0%


(Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Dewan Gubernur Bulanan. Foto: Tangkapan layar YouTube BI)
 

Ekonomi Indonesia 2026 diramal tumbuh hingga 5,7%


Sejalan dengan itu, lanjut Perry, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

"Termasuk melalui penguatan kebijakan makroprudensial longgar dan kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung kegiatan ekonomi digital dan keuangan inklusif," terang dia.

Adapun, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang 2026 berada dalam kisaran 4,9 persen sampai 5,7 persen.

(Husen Miftahudin)