Jajak Pendapat Sebut 92 Persen Warga Israel Yakin Iran Menangkan Pertempuran

Israel dianggap kalah dalam pertempuran melawan Iran. Foto: EFE-EPA

Jajak Pendapat Sebut 92 Persen Warga Israel Yakin Iran Menangkan Pertempuran

Fajar Nugraha • 23 June 2026 09:37

Tel Aviv: Mayoritas warga Israel menilai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah gagal total dalam memimpin perang melawan Iran.

Penilaian tersebut didasarkan pada hasil jajak pendapat publik terbaru yang dipublikasikan pada Minggu, 21 Juni 2026.

Secara kronologis, koalisi militer Israel dan Amerika Serikat (AS) meluncurkan agresi terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Masa gencatan senjata sementara kemudian diumumkan pada 8 April, sebelum akhirnya Teheran dan Washington resmi menandatangani nota kesepahaman pada Rabu lalu untuk mengakhiri konflik bersenjata tersebut.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Hebrew University of Jerusalem antara tanggal 17 hingga 20 Juni terhadap 3.644 responden, dan dirilis oleh harian The Times of Israel, sebanyak 56,4 persen responden menggambarkan kinerja Netanyahu selama perang sebagai sebuah kegagalan atau buruk.

Sebaliknya, hanya ada sekitar 26,5 persen responden yang memberikan penilaian positif terhadap kepemimpinannya.

“Hasil jajak pendapat tersebut juga mengungkap bahwa sebanyak 72,5 persen responden sama sekali tidak mempercayai klaim sepihak Netanyahu yang mengatakan bahwa Israel telah mencapai keuntungan signifikan serta berhasil melenyapkan ancaman eksistensial dari Iran,” dalam hasil survei yang dikutip dari Anadolu, Selasa 23 Juni 2026.

“Data survei tersebut bahkan menunjukkan angka yang lebih ekstrem, di mana 92,1 persen responden meyakini bahwa Iran telah memenangkan pertempuran ini,” imbuh hasil survei.

Sementara itu, sekitar 82,9 persen dari total responden menilai konflik bersenjata ini justru memperlemah jaminan keamanan jangka panjang bagi negara Israel. Merujuk pada temuan di lapangan, sebanyak 87,8 persen masyarakat percaya bahwa militer Israel telah gagal mencapai target awal ofensif yang mereka canangkan, atau hanya mampu memenuhi sebagian kecil saja dari target-target tersebut.

Efek domino dari ketidakpuasan publik ini juga berdampak langsung pada elektabilitas politik personal Netanyahu, di mana tingkat dukungan terhadap dirinya sebagai perdana menteri pilihan merosot tajam dari 40,5 persen pada bulan Maret menjadi hanya 29,4 persen pada bulan Juni ini.

Di sisi lain, sebanyak 48,2 persen responden mengatakan dukungan penuh agar militer Israel kembali meluncurkan aksi militer skala besar terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon, meskipun langkah tersebut berisiko memicu benturan diplomatik langsung dengan Presiden AS Donald Trump.

Sementara itu, 20,9 persen lainnya menolak rencana aksi militer tersebut dan sisanya memilih untuk tidak memberikan opini. Sebelumnya pada hari Minggu, babak perundingan antara AS dan Iran resmi dibuka di resor mewah Burgenstock, Swiss.

Proses diplomasi ini berjalan di bawah kerangka kerja Nota Kesepahaman Islamabad yang dirancang untuk membuka jalan bagi penghentian permanen atas perang koalisi AS-Israel terhadap kedaulatan Iran.

Nota kesepahaman damai tersebut memuat sejumlah poin krusial yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan di semua lini pertempuran termasuk di Lebanon, membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal dagang, serta mencabut total sanksi blokade angkatan laut AS yang selama ini diterapkan terhadap Iran.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)