Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo. ANTARA/Dokumentasi Pribadi
Meski Mulai Masuk Kemarau, Hujan Masih Berpotensi di Jateng Bagian Selatan
Whisnu Mardiansyah • 5 June 2026 16:20
Cilacap: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap menyebutkan hujan masih berpeluang terjadi di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan. Kondisi ini berlangsung meskipun sebagian besar daerah telah menunjukkan tanda-tanda memasuki musim kemarau.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih tercatat di sejumlah wilayah Jawa Tengah selatan, terutama di Kabupaten Banyumas.
"Berdasarkan pantauan di beberapa pos pengamatan curah hujan, masih terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada 4 Juni 2026. Curah hujan yang tercatat di beberapa pos berkisar antara 16 hingga 20 milimeter per hari," kata teguh di Cilacap, seperti dilansir Antara, Jumat, 5 Juni 2026,
Menurut dia, hujan yang terjadi di Banyumas pada Kamis, 4 Juni 2026, dipicu oleh faktor lokal berupa pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sekitar wilayah tersebut.
Dalam hal ini, kata dia, pertumbuhan awan konvektif tersebut menyebabkan terjadinya hujan setempat meskipun secara umum kondisi atmosfer mulai mengarah pada musim kemarau.
Ia mengatakan wilayah Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya yang merupakan bagian dari Jawa Tengah selatan saat ini telah memperlihatkan sejumlah ciri musim kemarau. Salah satunya suhu udara pada pagi hari yang mulai terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.
Selain itu, lanjut dia, pada siang hari sinar matahari terasa lebih terik karena tutupan awan semakin sedikit sehingga radiasi matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi.
"Dari pantauan arah angin juga sudah mulai dominan dari arah timuran yang merupakan salah satu karakteristik musim kemarau," katanya.
Ia mengatakan hasil pencatatan curah hujan selama Mei 2026 menunjukkan wilayah Cilacap bagian barat yang meliputi Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, dan Cimanggu serta wilayah Kota Cilacap secara umum masih mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter per bulan. Dengan demikian, wilayah tersebut masih tergolong dalam musim hujan.

Ilustrasi Medcom.id
Sementara itu, kata dia, wilayah lain di Kabupaten Cilacap telah mencatat curah hujan kurang dari 150 milimeter per bulan. "Bahkan, Kecamatan Binangun menjadi wilayah dengan curah hujan terendah, yakni 53 milimeter per bulan," katanya.
Menurut dia, kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya. Ia mengatakan sejumlah wilayah Banyumas seperti Banteran, Jatilawang, Cikidang, dan Lumbir mencatat curah hujan kurang dari 150 milimeter per bulan.
Bahkan, kata dia, wilayah Sumpiuh tercatat hanya menerima curah hujan 41 milimeter selama Mei 2026 dengan lima hari hujan. Kendati demikian, dia mengatakan BMKG memprakirakan hujan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan meskipun peluangnya relatif kecil dan bersifat sangat lokal.
Terkait hal itu, Teguh mengimbau masyarakat di wilayah Jawa Tengah bagian selatan untuk tetap mewaspadai perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat pada masa peralihan menuju musim kemarau. Ia juga meminta warga memanfaatkan ketersediaan air secara bijak untuk mengantisipasi berkurangnya curah hujan pada periode mendatang.