Jumlah Kasus Dugaan Ebola di RD Kongo Tembus 900

Petugas kesehatan memeriksa temperatur tubuh warga di tengah wabah Ebola di RD Kongo. (Anadolu Agency)

Jumlah Kasus Dugaan Ebola di RD Kongo Tembus 900

Willy Haryono • 25 May 2026 06:56

Kinshasa: Jumlah kasus dugaan Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo melampaui 900 hingga hari Minggu kemarin, yang terjadi di tengah krisis keamanan dan keterbatasan fasilitas kesehatan di kawasan tersebut.

Dikutip dari France 24, Senin, 25 Mei 2026, Kementerian Komunikasi RD Kongo melalui unggahan di X menyebut terdapat 904 kasus dugaan Ebola dan 119 dugaan kematian, sebagian besar terjadi di Provinsi Ituri yang menjadi pusat wabah.

Lonjakan itu meningkat signifikan dibanding laporan sebelumnya yang mencatat lebih dari 700 kasus dugaan Ebola.

Wabah Ebola terjadi di tengah konflik berkepanjangan yang melibatkan kelompok pemberontak bersenjata, pengungsian massal, lemahnya pemerintahan lokal, serta pemotongan bantuan internasional.

Organisasi Physicians for Human Rights menyebut situasi tersebut sebagai “serangkaian darurat yang menghancurkan.”

Sebelumnya, Doctors Without Borders melaporkan kondisi keamanan di Ituri memburuk dalam beberapa waktu terakhir sehingga banyak tenaga medis meninggalkan wilayah tersebut. Fasilitas kesehatan di daerah rentan disebut berada dalam “kondisi katastrofik”.

Kelompok pemberontak AFC/M23 yang didukung Rwanda menguasai sebagian wilayah timur RD Kongo, sementara kelompok Allied Democratic Forces (ADF) yang terkait ISIS disebut menjadi salah satu aktor utama serangan terhadap warga sipil di Ituri.

Hampir Sejuta Warga Mengungsi

Kantor kemanusiaan PBB menyebut hampir satu juta orang mengungsi akibat konflik di Ituri.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengatakan wabah Ebola kini berkembang di tengah komunitas yang telah lebih dulu menghadapi ketidakamanan, pengungsian, dan sistem kesehatan yang rapuh.

Kasus Ebola juga dilaporkan muncul di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan, serta di negara tetangga Uganda.

Sejumlah pakar kesehatan menilai pemotongan bantuan internasional, termasuk dari Amerika Serikat, memperburuk kemampuan wilayah tersebut dalam mendeteksi dan menangani wabah penyakit menular.

Kelompok bantuan di lapangan mengaku kekurangan perlengkapan dasar seperti pelindung wajah, pakaian hazmat, alat tes, hingga kantong jenazah.

“Kami hanya memiliki hand sanitizer dan beberapa masker untuk perawat,” kata Julienne Lusenge dari organisasi bantuan Women’s Solidarity for Inclusive Peace and Development.

Jenis virus Ebola Bundibugyo yang menyebabkan wabah kali ini hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui.

Pusat Penanganan Ebola Dibakar

Situasi semakin rumit setelah pusat penanganan Ebola di wilayah Rwampara dan Mongbwalu dibakar massa pekan lalu.

Menurut saksi dan kepolisian, pembakaran pertama dipicu sekelompok pemuda lokal yang ingin mengambil jenazah temannya. Massa menuduh organisasi bantuan asing berbohong soal Ebola.

Pemerintah setempat kini melarang acara duka dan kerumunan lebih dari 50 orang. Polisi dan tentara juga dikerahkan untuk mengawal proses pemakaman korban Ebola.

Baca juga:  Antisipasi Wabah Ebola, Rwanda Terapkan Karantina Wajib bagi Pelancong asal Kongo

(Willy Haryono)