Aktivis Global Sumud Flotilla Disiksa hingga Disetrum di Tahanan

Aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan dan diikat Israel alami penyiksaan. Foto: Anadolu

Aktivis Global Sumud Flotilla Disiksa hingga Disetrum di Tahanan

Dimas Chairullah • 21 May 2026 11:49

Tel Aviv: Para aktivis kemanusiaan yang ditangkap dari rombongan armada bantuan Global Sumud Flotilla dilaporkan telah menjadi korban penyiksaan brutal militer Israel.

Mereka dilaporkan mengalami sengatan listrik, serta rentetan pelecehan fisik dan psikologis selama berada di dalam pusat penahanan.

Fakta mengerikan ini diungkapkan berdasarkan kesaksian yang didokumentasikan oleh kelompok hak asasi manusia asal Israel, Adalah, pada hari Rabu waktu setempat.
 

Mengutip laporan dari kantor berita Anadolu, Kamis, 21 Mei 2026, setidaknya tiga aktivis terpaksa dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan akibat cedera serius. Sementara itu, puluhan tahanan lainnya diduga menderita patah tulang rusuk dan kesulitan bernapas akibat tindak kekerasan selama masa penahanan.

Tim hukum dari organisasi Adalah menyatakan bahwa mereka telah mengumpulkan berbagai kesaksian yang konsisten, secara gamblang mendokumentasikan penggunaan sengatan listrik secara berulang kali terhadap para aktivis sipil tersebut.

Laporan investigasi itu juga mencatat kisah kelam para tahanan yang dipaksa berada dalam posisi yang menyakitkan dan merendahkan martabat selama proses pemindahan mereka menuju Pelabuhan Ashdod.

Para aktivis dipaksa berjalan sambil membungkuk sepenuhnya dan dibiarkan berlutut dalam jangka waktu yang sangat lama. Lebih parahnya, otoritas Israel dilaporkan telah secara paksa melepas jilbab beberapa aktivis perempuan yang berpartisipasi dalam misi damai tersebut.

Menyikapi hal ini, Adalah secara terbuka menuduh otoritas Israel tengah menjalankan "kebijakan kriminal berupa pelecehan dan penghinaan". Kecaman ini mencuat menyusul beredarnya sebuah rekaman video di media sosial yang dibagikan langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.



Dalam rekaman tersebut, para aktivis terlihat dipaksa berlutut dengan tangan terborgol di belakang punggung dan wajah menghadap ke lantai, sementara lagu kebangsaan Israel sengaja diputar dengan volume keras sebagai latar belakangnya.

Menurut temuan Adalah, akses informasi mengenai keberadaan pasti, status hukum, hingga kesejahteraan para tahanan multinasional itu saat ini "sangat dibatasi" oleh aparat berwenang Israel. Para tahanan dijadwalkan hadir di hadapan pengadilan pada hari Kamis ini untuk meninjau status penahanan mereka sesaat sebelum prosedur deportasi diberlakukan.

Sebagai informasi, Armada Global Sumud bertolak pada Kamis pekan lalu dari distrik Marmaris di Turki. Pelayaran ini merupakan langkah berani dari kelompok sipil internasional untuk menembus blokade ilegal Israel yang telah melumpuhkan Jalur Gaza sejak tahun 2007.

Blokade ketat ini telah menyebabkan sekitar 2,4 juta penduduk Palestina di wilayah tersebut berada di ambang bencana kelaparan parah.

Tindakan represif ini bukanlah pencegatan pertama. Pada akhir April lalu, armada laut Israel juga menyerang konvoi kapal kemanusiaan di perairan internasional lepas pantai Kreta, Yunani, yang kala itu membawa 345 delegasi dari 39 negara.

Kondisi di Gaza hingga saat ini semakin memilukan menyusul operasi militer dan serangan brutal Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023. Serangan masif yang tak kunjung usai itu dilaporkan telah merenggut nyawa lebih dari 72.000 orang, melukai 172.000 lainnya, dan meninggalkan kehancuran masif di seluruh wilayah yang terkepung.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)