BNPB Catat Karhutla Capai 639 Hektare, Mayoritas di Kalteng

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr

BNPB Catat Karhutla Capai 639 Hektare, Mayoritas di Kalteng

Kautsar Widya Prabowo • 13 October 2026 09:45

Jakarta: Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Suharyanto menyampaikan per 12 Oktober 2026 ada ratusan hektare lahan terbakar, dengan luasan terbesar di Kalimantan Tengah yang mencapai 513,89 hektare.

"Untuk hari ini, yang terbakar yang masih ditangani oleh satgas di lapangan jumlahnya adalah 639,23 hektare. Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah," kata Suharyanto, dikutip Selasa, 13 Oktober 2026.

Laporan tersebut disampaikan dalam rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026.

Suharyanto menjelaskan kebakaran baru ditemukan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Meski kebakaran terjadi di lahan mineral dan bukan gambut, penanganannya tetap menjadi prioritas satgas.

"Per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana. Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral, tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kami lakukan," ujar Suharyanto.

Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah diperkuat dengan penambahan personel dan peralatan satgas darat. Panglima Kodam Kalimantan Tengah juga telah memimpin langsung upaya penanganan kebakaran di lapangan.

"Pangdam Kalimantan Tengah juga sudah memimpin langsung di lapangan per hari ini. Kemudian ada penambahan pasukan dan peralatan satgas darat," kata Suharyanto.

Sementara itu, upaya pemadaman melalui jalur udara masih terkendala jarak pandang yang rendah akibat asap tebal. Satgas udara telah berupaya bergerak dari Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, dan Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, tetapi belum berhasil menembus kondisi tersebut.

"Untuk satgas udara kami sudah coba bergerak, baik dari Palangkaraya, Tjilik Riwut, maupun dari Syamsudin Noor, Banjarmasin, sementara belum tembus karena visibility yang sangat tebal," ujarnya.


Ilustrasi karhutla. Foto: dok.Kemenhut. 

Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah operasi udara di Kalimantan Tengah belum dapat dilakukan. Operasi yang terdampak meliputi pemadaman menggunakan helikopter atau water bombing, operasi modifikasi cuaca, hingga penerbangan pesawat komersial.

"Operasi-operasi udara, baik heli water bombing, operasi modifikasi cuaca, maupun pesawat komersial sementara tidak dapat terbang karena visibility yang rendah," kata Suharyanto.

Suharyanto menyimpulkan, hingga 12 Oktober 2026, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan masih menjadi dua provinsi dengan penanganan karhutla yang cukup berat.

(Gabriella Thesa Widiari)