KM Feronia Tenggelam di Labuan Bajo, Polisi Usut Dugaan Kelalaian

Foto : Korban selamat dievakuasi ke Labuan Bajo (Foto : MI/ Marianus Marselus

KM Feronia Tenggelam di Labuan Bajo, Polisi Usut Dugaan Kelalaian

Media Indonesia • 14 October 2026 08:45

Manggarai Barat: Polres Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyelidiki dugaan kelalaian dalam insiden tenggelamnya kapal wisata KM Feronia di perairan Tatawa Besar, kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), Labuan Bajo, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Polisi menduga insiden tersebut tidak hanya berkaitan dengan kuatnya arus laut, tetapi juga dugaan kelalaian dalam pengoperasian kapal.

Polisi menyoroti karakteristik konstruksi KM Feronia. Kapal tersebut disebut memiliki lambung yang relatif pendek dan kecil, sementara bangunan kabinnya cukup tinggi. Kondisi itu diduga dapat memengaruhi kestabilan kapal ketika menghadapi arus yang kuat.

“Pihak kepolisian tidak menutup kemungkinan adanya unsur kelalaian atau human error dari pihak nakhoda yang kurang memperhitungkan kestabilan konstruksi kapal saat memotong atau melintasi jalur pusaran arus,” ujar Kasat Polairud Polres Manggarai Barat, Iptu Leonardo Marpaung, Selasa malam, 13 Oktober 2026.

Meski kondisi cuaca dilaporkan relatif teduh, kawasan Tatawa Besar dikenal memiliki arus laut yang kuat. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperiksa untuk mengetahui faktor penyebab kapal terbalik.

Polres Manggarai Barat telah menerbitkan Laporan Polisi Model A sebagai dasar penanganan perkara tersebut. Penyidik selanjutnya akan memeriksa nakhoda, Kepala Kamar Mesin (KKM), tiga Anak Buah Kapal (ABK), serta meminta keterangan dari agen pelayaran dan pemilik kapal.

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat mengungkap secara menyeluruh rangkaian kejadian, termasuk keputusan operasional sebelum kapal terbalik, kondisi teknis kapal, serta kemungkinan adanya pelanggaran prosedur keselamatan pelayaran.

Kapal Terbalik Saat Melintasi Pusaran Arus

Berdasarkan kronologi awal kepolisian, KM Feronia merupakan kapal jenis open deck diving dengan bobot 51 gross tonnage (GT). Kapal tersebut sebelumnya berlayar dari Manta Point menuju perairan Tatawa Besar dengan kecepatan sekitar 10 knot.

Saat mendekati lokasi yang berjarak sekitar 15 meter dari pusaran arus deras, nakhoda bernama Isran mengurangi kecepatan kapal menjadi 8 knot. Namun, ketika memasuki area pusaran arus, kapal disebut kehilangan kendali, berbalik arah, kemudian terbalik ke sisi kiri sebelum akhirnya tenggelam.

Peristiwa itu membuat puluhan penumpang dan awak kapal berhamburan menyelamatkan diri ke laut. Kru kapal juga sempat membentangkan life raft untuk membantu proses penyelamatan.

Evakuasi penumpang Kapal wisata tradisional KM Feronia tenggelam di perairan Pulau Tatawa, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa, 13 Oktober 2026. Foto: SAR Maumere

Beruntung, dua kapal cepat, yakni speedboat Red Whale dan speedboat Mac Cruise, melintas di sekitar lokasi kejadian. Keduanya segera memberikan pertolongan awal sebelum tim SAR gabungan tiba.

Seluruh korban yang berhasil dievakuasi kemudian dibawa ke Labuan Bajo. Tiga wisatawan asing dilaporkan mengalami luka-luka dan mendapatkan penanganan medis. Ketiga korban tersebut adalah William Barnet yang mengalami luka di kepala, Teagans Monks yang mengalami luka di kaki, serta Yannick Wassmer yang mengalami luka lecet di kaki.

“Ketiga korban luka merupakan warga negara asing dan sementara sedang mendapatkan perawatan medis intensif di darat. Kemudian korban yang masih dalam proses pencarian adalah WNI,” ujar Leonardo.

Satu Orang Masih Hilang

Hingga kini, korban hilang atas nama Veronica Beatrix Jessica, 23, seorang dive master berkewarganegaraan Indonesia, masih dalam pencarian. Berdasarkan keterangan awal yang diperoleh kepolisian, korban berada di dalam toilet dengan pintu terkunci dari dalam saat kapal mendadak terbalik ke sisi kiri.

“Korban (Jessica) berada di dalam toilet dalam posisi pintu terkunci dari dalam. Ketika kapal mendadak terbalik ke arah kiri, korban tidak sempat menyelamatkan diri dan ikut tenggelam bersama lambung kapal,” kata Leonardo.

Di tengah proses penyelidikan, tim SAR gabungan masih berupaya menemukan Jessica. Operasi pencarian pada Selasa petang dihentikan sementara karena keterbatasan cahaya dan jarak pandang. Pencarian dilanjutkan kembali pada hari ini, Rabu, 14 Oktober 2026.

"Kita lakukan pencarian kembali. Kami akan berusaha semaksimal mungkin bersama unsur SAR terkait untuk menemukan korban dalam keadaan apa pun,” pungkasnya.

(Lukman Diah Sari)