Menelusuri Jejak Perjuangan Pahlawan yang Namanya Abadi di Jalan Raya

Pahlawan nasional HR Rasuna Said. Dok Kepustakaan Kowani.

Menelusuri Jejak Perjuangan Pahlawan yang Namanya Abadi di Jalan Raya

Siti Yona Hukmana • 2 November 2026 16:49

Jakarta: Di berbagai sudut kota di Indonesia, nama-nama pahlawan nasional kerap diabadikan sebagai penanda jalan raya, jalan protokol, hingga gang permukiman. Setiap harinya, jutaan pengendara dan pejalan kaki melintasi plang jalan tersebut tanpa henti. 

Penamaan fasilitas publik seperti jalan raya ini sejatinya dirancang bukan sekadar sebagai petunjuk arah administratif. Lebih dari itu, pelabelan nama pahlawan bertujuan untuk merawat ingatan kolektif bangsa agar nilai-nilai kepahlawanan tetap hidup di ruang publik. 

Di balik keakraban masyarakat dengan nama-nama jalan tersebut, sebagian mungkin masih asing dengan profil, kisah hidup, maupun bentuk perjuangan nyata dari sosok pahlawan yang namanya mereka lewati setiap hari.

Berikut sejumlah tokoh Pahlawan Nasional yang namanya populer di jalan berbagai kota:

1. Jalan H. R. Rasuna Said

Deretan gedung pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, berdiri kokoh di sepanjang Jalan H.R. Rasuna Said. Bagi pengendara yang melintas, nama ini mungkin terdengar sekadar sebagai penanda kawasan bisnis modern.

Padahal, Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah seorang srikandi pejuang kemerdekaan yang dikenal tajam dalam melawan penjajah melalui jurnalistik. Keberanian ini yang membuat Soekarno menjulukinya sebagai Singa Betina.

Ia merupakan pelopor emansipasi perempuan dari Sumatra Barat yang dengan berani mengecam kebijakan diskriminatif pemerintah kolonial Belanda lewat pidato-pidatonya. 

Atas keberanian dan konsistensinya memperjuangkan hak-hak kaum perempuan serta kemerdekaan bangsa, ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 1974.

2. Jalan Otto Iskandardinata (Otista)

Kawasan Kampung Melayu hingga Jatinegara di Jakarta Timur dilewati oleh jalur bernama Jalan Otto Iskandardinata, yang kerap disingkat menjadi Jalan Otista. Nama ini diambil dari salah satu tokoh penting pergerakan nasional asal Bandung, Jawa Barat.

Otto Iskandardinata atau yang dijuluki si Singa Pasundan adalah tokoh pergerakan yang aktif di organisasi Boedi Oetomo dan Paguyuban Pasundan. Ia berperan besar dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) serta mengusulkan agar Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. 

Otto Iskandardinata. Foto: Dok: Universitas Pasundan

Meskipun wafat secara misterius dalam masa revolusi fisik tahun 1945 dan jasadnya tidak pernah ditemukan, jasa besar Otista dalam merumuskan awal kedaulatan negara menjadi legitimasi dirinya untuk menyandang gelar Pahlawan Nasional pada 1973.

3. Jalan Teuku Cik Ditiro

Bagi warga Jakarta, khususnya di kawasan Menteng, nama Jalan Teuku Cik Ditiro mungkin familiar. Ia adalah seorang ulama sekaligus panglima perang asal Aceh yang memimpin strategi gerilya luar biasa melawan kolonial Belanda.

Teuku Cik Ditiro Muhammad Saman dikenal sebagai tokoh sentral dalam Perang Aceh (1873–1910) yang memimpin pasukan dengan taktik pertahanan berlapis. Ia gugur di medan laga pada 1891, setelah mempertahankan wilayah kekuasaannya dengan gigih. Konsistensi dan keteguhan moralnya membuat pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 1973.

4. Jalan Wolter Monginsidi

Nama Robert Wolter Monginsidi diabadikan menjadi nama jalan utama di berbagai kota besar, seperti di Makassar, Jakarta, hingga Manado. Wolter Monginsidi merupakan pemimpin laskar pemberontak Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia (LAPRI) di Sulawesi Selatan yang menentang kembalinya tentara NICA Belanda pasca-proklamasi. 

Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, ia ditangkap, disiksa, dan akhirnya dihukum mati oleh regu tembak Belanda pada 1949 atau saat usianya menginjak 24 tahun.

Sebelum dieksekusi, ia menuliskan surat testament bermaterai ayat suci yang menunjukkan keteguhan iman dan kecintaannya yang mutlak kepada Republik Indonesia.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Siti Yona Hukmana)