Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Istimewa.
Wakil Ketua MPR: Santriwati Harus Berani Ambil Peran dan Bermimpi Besar
Arga Sumantri • 2 November 2026 17:30
Ngawi: Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak para santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor untuk berani memiliki cita-cita besar, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menjaga akhlak, serta mengambil peran nyata dalam membangun masa depan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan saat memberikan kuliah umum di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1, Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kegiatan ini diikuti lebih dari 2.000 santriwati.
Ibas menekankan masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh para pemimpin saat ini, tetapi juga oleh generasi muda yang sedang menempuh pendidikan dan membangun karakter.
"Ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya pada 2045, Indonesia seperti apa yang ingin kita lihat? Masa depan bangsa ini juga akan ditentukan oleh kalian, generasi muda yang hari ini sedang belajar, menuntut ilmu, dan membangun karakter di pesantren," ungkap Ibas dalam keterangan tertulis, Senin, 2 November 2026.
Ibas mendorong para santriwati agar tidak membatasi cita-cita hanya karena identitas dan latar belakang pendidikan pesantren. Sebaliknya, pendidikan pesantren harus menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Ia menekankan santriwati memiliki kesempatan untuk menjadi ilmuwan, dokter, pendidik, guru, diplomat, pengusaha, ahli teknologi, hingga politisi dan anggota parlemen.
"Kalian boleh bermimpi menjadi apa pun, selama cita-cita itu membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, umat, dan negara," tegas Ibas.
Hadapi Era Ai dengan Memperkuat Akhlak
Ibas mengingatkan generasi muda harus mampu beradaptasi dengan kemajuan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Teknologi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkarya, dan berinteraksi. Perkembangan informasi yang begitu cepat juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam membedakan fakta dan berita bohong, informasi yang benar dan keliru.Ia mengajak para santriwati tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta gagasan dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
"Kita hidup di dunia yang berubah sangat cepat. Teknologi dan kecerdasan buatan terus berkembang dan memengaruhi kehidupan kita. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau kita mampu menjadi pencipta gagasan dan menghadirkan solusi?" kata dia.

Ilustrasi santriwati. Foto: Dok Kemenag.
Ia menegaskan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan kekuatan iman dan akhlak. Ibas menilai pendidikan pesantren memiliki peran penting dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan masa depan. Mulai dari kemiskinan, pengangguran, terbatasnya lapangan pekerjaan, meningkatnya biaya hidup, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, generasi muda dinilai perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, menguasai bahasa, memahami teknologi. Selain itu, menghargai perbedaan, serta terus mengembangkan keterampilan dan kreativitas.
Ibas berharap Pondok Modern Darussalam Gontor terus menjadi bagian penting dalam melahirkan generasi penerus bangsa yang kuat secara iman, berwawasan luas, hingga memiliki pengabdian yang nyata bagi bangsa.
"Itulah generasi yang kita butuhkan untuk mencapai Indonesia Emas 2045," ungkapnya.
Ia juga mengajak para santriwati untuk menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif, termasuk narkoba, perjudian, pergaulan bebas, dan perkelahian, serta senantiasa menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan.