Pelajar ilustrasi. Dok Metrotvnews.com
Riset: 91% Pelajar Indonesia Khawatir Kesulitan Memahami Pelajaran Imbas AI
Arga Sumantri • 20 October 2026 11:35
Jakarta: Sebanyak 91 persen pelajar Indonesia khawatir meski kecerdasan buatan (AI) membantu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, mereka justru tidak memahami materi secara mendalam. Temuan ini terungkap dalam survei global HP Futures 2026 terhadap lebih dari 6 ribu pelajar, termasuk 2.097 pelajar Indonesia.
Angka di Indonesia tersebut merupakan yang tertinggi ketimbang seluruh negara yang disurvei. Laporan HP Futures yang disusun oleh HP bersama Global Learning Council dan Education Leaders Forum ini juga menghimpun masukan dari 58 pemimpin di bidang pendidikan, kebijakan publik, dan masa depan dunia kerja untuk membahas bagaimana sistem pendidikan dapat membekali generasi muda menghadapi dunia kerja di masa depan.
Di tengah meningkatnya penggunaan AI, ketika ingin mengingat materi pelajaran, para pelajar masih mengandalkan cara-cara lama, seperti mencetak atau menulis tangan. Sebanyak 52 persen responden memilih metode yang melibatkan cetak atau tulisan tangan, sedangkan 17 persen responden yang memilih ringkasan berbasis kecerdasan buatan sebagai metode utama.
Meskipun mengkhawatirkan dampak AI terhadap kedalaman pemahaman mereka, siswa Indonesia tetap optimistis terhadap prospek karier di dunia yang semakin didukung teknologi AI. Sebanyak 67 persen meyakini AI akan menciptakan lebih banyak peluang karier daripada menghilangkannya.
Selain itu, 84 persen yakin dapat menggunakan perangkat AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka kelak. Sementara, 88 persen menilai pendidikan yang mereka terima telah mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.
Baca Juga :
Peneliti UIN Jakarta Gagas Sistem Deteksi Dini Ekstremisme Keagamaan Digital Berbasis AI
"Sistem pendidikan perlu berbuat lebih banyak untuk membantu pelajar mengembangkan, menunjukkan, dan terus mengasah kemampuan yang tetap bernilai, apa pun arah perkembangan teknologi," ujar David dalam keterangan tertulis, Selasa, 20 Oktober 2026.
Director and Global Head – Education Business and Strategy HP, Mayank Dhingra, menambahkan, riset ini memberikan gambaran unik mengenai perspektif siswa secara global tentang keterampilan yang perlu mereka kuasai. Selain itu, dampak AI terhadap cara berpikir, kehidupan, dan prospek pekerjaan mereka.
"Yang paling mencolok, pelajar Indonesia menyampaikan bahwa meski merasa percaya diri menggunakan AI dan terbantu bekerja lebih cepat, mereka khawatir tidak memahami materi secara mendalam. Suara pelajar harus mendapat tempat yang kuat dalam diskusi, seiring sistem pendidikan menentukan arah kurikulum dan model penilaian ke depan,” tambah Mayank.
.jpeg)
Global launch HP Futures 2026. Foto: Istimewa.
Rekomendasi Hasil Riset HP Futures 2026
Survei tersebut juga mengungkap bahwa pelajar Indonesia menilai kreativitas dan berpikir kritis sebagai keterampilan terpenting dalam pasar kerja masa depan. Para pelajar menempatkan keterampilan esensial yang tahan zaman (durable skills) ini di atas keterampilan teknis.Kreativitas berada di posisi teratas (67 persen), diikuti berpikir kritis (63 persen), serta komunikasi dan kolaborasi (58 persen). Adapun literasi AI dan digital berada di peringkat kelima (40 persen).
Laporan ini menyerukan kepada para pembuat kebijakan di Indonesia dan berbagai negara untuk menyusun arah kebijakan yang jelas dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan yang akan terus relevan di masa depan. Keterampilan tersebut perlu menjadi bagian inti pendidikan, bukan sekadar pelengkap atau kegiatan ekstrakurikuler.
Laporan ini juga merekomendasikan agar literasi, numerasi, dan pembelajaran yang membantu membentuk identitas siswa tetap menjadi fondasi pendidikan. Pada saat yang sama, pendekatan kreatif dan praktik langsung perlu diterapkan agar siswa dapat menguasai kemampuan dasar sekaligus mengembangkan keterampilan yang akan terus dibutuhkan di masa depan.
Laporan ini menegaskan keterampilan yang tetap relevan dalam jangka panjang harus menjadi bagian inti sistem pendidikan, bukan tambahan yang bersifat opsional. Selain pendekatan baru dalam penilaian, laporan ini menyerukan dukungan lebih besar bagi para pendidik, yang tetap berperan sentral dalam membantu pelajar mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi, yakni keterampilan yang kian dicari oleh dunia kerja.
Berdasarkan masukan responden, pendidikan serta dunia kerja dari berbagai negara, laporan ini memaparkan rekomendasi praktis bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan pemberi kerja untuk membantu mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan yang didukung AI.
Survei digelar daring pada Mei-Juni 2026 dengan 6.206 responden pelajar dari 37 negara. Survei tersedia dalam bahasa Inggris, Spanyol, Portugis, Indonesia, Italia, dan Arab. Usia responden berkisar dari di bawah 12 tahun hingga di atas 25 tahun, dengan 88 persen di antaranya berusia 12 hingga 17 tahun.
Laporan ini juga menghimpun 58 pakar terkemuka melalui serangkaian focus group discussion (FGD) dan wawancara tatap muka, serta menyusun sejumlah studi kasus praktis dari sekolah, universitas, perusahaan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan sistem layanan publik di berbagai negara.