Petugas gabungan saat melakukan pemadaman kebakaran lahan di kawasan Gunung Rinjani Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis (1/10/2026). ANTARA/HO-Balai TNGR NTB.
Kebakaran Gunung Rinjani Padam, Luas Terdampak 1.098 Hektare
Whisnu Mardiansyah • 2 October 2026 10:10
Mataram: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan kebakaran hutan di kawasan Resor Torean dan Senaru, Gunung Rinjani, Lombok, berhasil dipadamkan sepenuhnya hingga Kamis, 1 Oktober 2026.
Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR Astekita Ardiarsito mengatakan petugas sebelumnya masih menemukan kepulan asap yang berasal dari bara api di sekitar Resor Torean. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman dan pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara tersisa yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
"Sebelumnya tim masih menemukan asap dari bara yang menyala di sekitar Resor Torean, sehingga pemadaman terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau indikator api yang berpotensi memicu kebakaran kembali di kawasan Gunung Rinjani," kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR Astekita Ardiarsito di Mataram, seperti dilansir Antara, Jumat, 2 Oktober 2026.
Astekita menjelaskan, regu pemadam bersama tim asesmen dikerahkan untuk melakukan penanganan di kawasan Birisan Nangka. Setelah api berhasil dipadamkan, petugas melanjutkan proses pembersihan sisa bara sekaligus melakukan pemantauan di area terdampak.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada titik panas maupun bara yang masih berpotensi menimbulkan kebakaran susulan. Berdasarkan pendataan sementara hingga 1 Oktober 2026, luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare.
Namun, angka tersebut masih berupa estimasi sementara. Balai TNGR akan terus memperbarui data melalui pemantauan, pemetaan, dokumentasi menggunakan drone, serta verifikasi langsung di lapangan.
"Dalam kegiatan tersebut, petugas juga menemukan satu ekor satwa jenis piton dalam kondisi mati," ujarnya.
Kondisi Jalur Masih Dievaluasi
Selain menangani area bekas kebakaran, tim asesmen juga memeriksa kondisi jalur pendakian yang terdampak. Pemeriksaan mencakup kondisi lintasan, vegetasi, keberadaan pohon atau material yang terbakar, hingga sejumlah titik yang dinilai memerlukan penanganan dan perbaikan.
Meski kobaran api telah berhasil dipadamkan, kondisi tersebut belum menjadi dasar untuk membuka kembali jalur pendakian. Balai TNGR masih menunggu hasil evaluasi terhadap keamanan medan sebelum menentukan kebijakan selanjutnya.
Faktor yang menjadi perhatian antara lain stabilitas jalur, potensi pohon tumbang, material sisa kebakaran, serta keselamatan para pendaki.
"Kedua jalur belum digunakan sebagai pintu masuk maupun keluar pendakian sampai ada kebijakan lebih lanjut berdasarkan hasil evaluasi," kata dia.

Arsip - Gunung Rinjani dari Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). ANTARA/Nur Imansyah.
Balai TNGR mengimbau calon pendaki yang telah memiliki e-ticket melalui Jalur Senaru untuk melakukan penjadwalan ulang atau mengalihkan rencana pendakian melalui Jalur Sembalun. Imbauan tersebut disampaikan seiring masih berlangsungnya evaluasi terhadap kondisi jalur pascakebakaran.
"Mari tetap waspada, jangan mendekati lokasi bekas kebakaran, jangan membuat sumber api baru dan ikuti arahan petugas," katanya.
Kebakaran di kawasan Bukit Setampol, Resor Torean, Gunung Rinjani, Lombok, terjadi pada Selasa, 22 September 2026. Setelah kebakaran ditangani, petugas masih melanjutkan pemantauan dan proses penanganan di lokasi. Hingga 1 Oktober 2026, tidak lagi terlihat titik api baru di kawasan terdampak.
Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan kondisi kawasan aman dari bara atau titik panas yang berpotensi memicu kebakaran kembali.