Analis: Informasi Valid dan Kinerja Fundamental Jadi Acuan Investor di Tengah Dinamika Pasar

Ilustrasi pergerakan pasar modal. Investor perlu mencermati informasi resmi dan fundamental emiten sebelum mengambil keputusan investasi. (Foto: Freepik)

Analis: Informasi Valid dan Kinerja Fundamental Jadi Acuan Investor di Tengah Dinamika Pasar

Patrick Pinaria • 30 September 2026 22:35

Jakarta: Investor dinilai perlu mencermati informasi yang telah dikonfirmasi secara resmi, serta kondisi fundamental perusahaan. Hal tersebut penting dilakukan di tengah dinamika pasar modal yang dipengaruhi beragam informasi mengenai aksi korporasi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan investor perlu merujuk pada sumber resmi perusahaan, khususnya ketika muncul rumor yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar. Konfirmasi resmi diperlukan untuk membedakan informasi material yang telah terverifikasi dari spekulasi.

"Investor perlu membedakan informasi material yang telah dikonfirmasi dengan spekulasi pasar," kata Nafan pada Rabu, 30 September 2026.

Menurut Nafan, kehati-hatian juga diperlukan dalam menyikapi aktivitas perdagangan di bursa. Ia menilai transaksi saham tidak dapat langsung dikaitkan dengan aksi korporasi tertentu tanpa adanya analisis lebih lanjut.

"Lebih tepat melihat transaksi sebagai aktivitas perdagangan yang perlu ditelusuri berdasarkan pihak yang bertransaksi, harga, volume, dan keterbukaan informasi terkait, bukan semata-mata dari nilai transaksi agregatnya," kata Nafan.

Investor juga perlu menggabungkan sejumlah sumber informasi sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi sebuah perusahaan. Dengan mengacu pada informasi resmi dan mencermati kinerja fundamental emiten, berbagai sentimen yang berkembang di pasar dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih utuh.

Nafan mengatakan fundamental emiten menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi perusahaan, terutama ketika perusahaan tersebut dipertimbangkan sebagai pilihan investasi. Hal itu juga berlaku ketika investor mencermati emiten dari sektor perbankan.

"Di tengah tantangan ekonomi dan fluktuasi pasar, indikator utama seperti pertumbuhan kredit, profitabilitas, kualitas aset, dan dana murah masih memberikan gambaran bahwa fundamental perusahaan tetap terjaga," kata Nafan.

Salah satu emiten perbankan yang beberapa hari terakhir menjadi perhatian investor, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Perbincangan mengenai BCA mencuat setelah sebelumnya muncul rumor bahwa perusahaan tersebut akan diakuisisi pengusaha asal Kalimantan, Haji Isam.
 


 
Dari sisi fundamental, Nafan menilai BCA masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Pada semester I-2026, BCA membukukan laba bersih Rp29,5 triliun. Pada periode yang sama, penyaluran kredit tumbuh 8 persen secara tahunan menjadi Rp1.036 triliun.

Kinerja tersebut turut didukung struktur pendanaan BCA yang ditopang dana murah atau CASA. Hingga paruh pertama 2026, CASA BCA meningkat 10,2 persen menjadi Rp1.082 triliun atau mencapai 84,3 persen dari total dana pihak ketiga perseroan.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BCA tercatat sebesar 1,9 persen. Sementara itu, Loan at Risk (LAR) berada di level 4,9 persen.

Kinerja laba bersih BCA juga tercatat tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, laba bersih perseroan mencapai Rp54,8 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Pada 2025, laba bersih kembali meningkat 4,9 persen menjadi Rp57,5 triliun.

Pertumbuhan laba tersebut berjalan seiring dengan peningkatan penyaluran kredit. Kredit BCA naik dari Rp922 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp993 triliun per akhir 2025.

Selain mencatatkan pertumbuhan kinerja, BCA juga melakukan aksi pembelian kembali saham atau buyback. Perseroan telah menyatakan melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun untuk periode 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.

Nafan mengatakan aksi buyback dapat menjadi salah satu langkah manajemen dalam menjaga stabilitas harga saham sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap fundamental perseroan.

"Ini sebagai salah satu mekanisme stabilisasi dan bentuk pengelolaan modal yang dapat membantu menjaga kepercayaan investor ketika volatilitas meningkat," tutur Nafan.

(Patrick Pinaria)