WR Soepratman saat memperdengarkan lagu Indonesia Raya pada Kongres Pemuda II. DOK Museum Sumpah Pemuda
Tokoh Sumpah Pemuda: Biola dan Pena W.R. Supratman yang Bikin Belanda Ketar-ketir
Lukman Diah Sari • 22 October 2026 10:09
Jakarta: Menjelang Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, mari mengenang kembali sosok-sosok yang berjasa besar bagi kemerdekaan dan persatuan Tanah Air. Salah satunya adalah W.R. Soepratman, yang membuat pemerintah kolonial Belanda meradang dengan gesekan biola dan penanya.
Saat mendengar atau membaca nama W.R. Soepratman, yang langsung melekat di kepala adalah statusnya sebagai pencipta lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Padahal, bukan itu saja aksi heroik W.R. Soepratman yang bikin Belanda ketar-ketir.
Dari Panggung Jurnalistik
Lahir dengan nama Wage Rudolf Soepratman di Meester Cornelis (saat ini Jatinegara, Jakarta) pada 9 Maret 1903 (meski ada juga catatan sejarah yang menyebutkan lahir di Purworejo, Jawa Tengah). Beliau merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara, lahir dari pasangan Djoemeno Senen Sastrosoehardjo -seorang tentara KNIL Belanda- dan Siti Senen.Ia awalnya mengenyam pendidikan dasar di sekolah Bumiputera (Tweede Inlandscheschool) di Jakarta. Hingga kemudian pada 1914, W.R. Soepratman pindah ke Makassar untuk ikut kakak sulungnya, Roekijem. Di Kota Angin Mammiri, ia belajar bahasa Belanda, menuntaskan pendidikan Normaalschool (Sekolah Pendidikan Guru), hingga mengantongi ijazah Klein Ambtenaar Examen (KAE) alias ujian calon pegawai.
Sebelum dikenal lewat gesekan biolanya, W.R. Soepratman sempat menjadi guru dan bekerja di perusahaan dagang. Namun, jiwa muda Soepratman baru menemukan panggung yang pas saat banting setir ke dunia jurnalistik pada 1924.

W.R. Soepratman. (Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia)
Awalnya, ia menjadi wartawan di surat kabar Kaoem Moeda dan Kaoem Kita di Bandung, lalu pindah ke Jakarta dan bergabung dengan jajaran redaksi harian Sin Po, dan mendirikan kantor berita Alpena bersama Parada Harahap.
Sebagai wartawan, W.R. Soepratman mulai meliput rapat-rapat politik hingga bisa terhubung langsung dengan tokoh nasional era kolonial. Ia juga menuliskan kritik tajam kepada pemerintah kolonial Belanda.
Hidup W.R. Soepratman kala itu sederhana, tetapi ia aktif bergaul dengan tokoh pergerakan seperti Soekarno dan Hatta. Ia juga berjualan buku bekas untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Senjata Bernada di Kongres Pemuda II
Darah seni Soepratman sejatinya sudah mengalir dari sang kakek, Mas Ngabehi Notosoedirdjo, yang merupakan seorang priyayi berbakat seni. Namun, bakat itu semakin terasah kencang sejak ia diberi hadiah biola di usia 17 tahun oleh kakak iparnya, W.M. van Eldik, saat tinggal di Makassar. W.R. Soepratman jago memainkan nomor-nomor klasik karya Chopin, Beethoven, Liszt, dan Tschaikovsky.Bersama van Eldik, ia tergabung dalam kelompok musik Black & White Jazz Band. Kala itu musik bergenre jaz sangat terkenal di seantero Makassar dan digemari para serdadu Belanda.
Jalur seni ini kemudian ia jadikan sebagai medan juang. Puncaknya pada 27-28 Oktober 1928 dalam pelaksanaan Kongres Pemuda Kedua. Tepat sebelum Putusan Kongres (yang kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda) dibacakan, ia tampil ke depan. Untuk pertama kalinya, W.R. Soepratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya secara instrumental lewat gesekan biolanya di hadapan seluruh peserta kongres.
Selain lagu kebangsaan Indonesia Raya, ia juga menciptakan banyak karya lagu yang membakar semangat persatuan, seperti Dari Barat Sampai ke Timur, Bendera Kita, Bangunlah Hai Kawan, Ibu Kita Kartini, Indonesia Hai Ibuku, hingga Matahari Terbit.
Tak hanya melalui nada, W.R. Soepratman juga menuangkan perlawanan lewat sastra dengan merilis buku berjudul Perawan Desa, Darah Muda, dan Kaum Fanatik. Sayangnya, salah satu bukunya, yakni Perawan Desa dilarang keras beredar dan disita oleh pihak Belanda.
Diburu hingga Akhir Hayat
Pasca-Kongres Pemuda Kedua, kehidupan W.R. Soepratman tidak lagi tenang. Kata "Merdeka, Merdeka" di dalam lirik Indonesia Raya membuat dirinya masuk daftar hitam incaran kolonial Belanda. Puncaknya pada 1930, pemerintah Hindia Belanda secara resmi melarang rakyat Indonesia menyanyikan lagu tersebut di depan umum.Demi menghindari mata-mata kolonial, dalam rentang 1933-1937, W.R. Soepratman hidup nomaden, berpindah dari Jakarta ke Cimahi, lalu ke Pemalang. Hingga pada April 1937, ia dibawa oleh kakaknya, Ny. Rukiyem Soepratiyah, ke Surabaya dalam kondisi sakit.
Meskipun sedang sakit parah, pihak kolonial masih terus memburu W.R. Soepratman. Hingga pada 7 Agustus 1938, W.R. Soepratman ditangkap oleh kolonial Belanda di studio Radio NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep) di Jalan Embong Malang, Surabaya.
Kala itu, penangkapan terjadi lantaran lagu ciptaannya berjudul Matahari Terbit dinyanyikan oleh pandu-pandu KBI di radio tersebut. Lagu Matahari Terbit dinilai sebagai bentuk simpati terhadap Kekaisaran Jepang. Ia sempat ditahan di Penjara Kalisosok, sebelum akhirnya dilepaskan karena kolonial Belanda gagal menemukan bukti-bukti kuat.

Patung W.R. Soepratman. (Nada yang Membebaskan Bangsa-Yayasan Wage Rudolf Soepratman)
Sayangnya, kondisi fisik W.R. Soepratman semakin menurun pasca-penahanan tersebut. Pada hari Rabu Wage, 17 Agustus 1938, W.R. Soepratman mengembuskan napas terakhirnya di Jalan Mangga No. 21, Tambak Sari, Surabaya akibat gangguan jantung. Raganya kemudian disemayamkan di Pemakaman Umum Kapasan.
Meski wafat tujuh tahun sebelum Indonesia benar-benar merdeka, perjuangannya terus hidup. Atas jasa-jasanya, makam W.R. Soepratman dipindahkan dan diperbaiki oleh negara.
Pemerintah RI juga menganugerahinya Bintang Mahaputra Anumerta III (1960), menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 20 Mei 1971, serta menyematkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama pada 19 Juni 1974.
W.R. Soepratman menjadi bukti abadi bahwa pena, biola, dan karya seni mampu menjadi senjata perlawan yang sangat menakutkan untuk melawan penjajah.
Sumber:
Biografi W.R. Supratman: Guru Bangsa Indonesia - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Mengulik Biografi Sang Pencipta Lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman-Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbud
Nada yang Membebaskan Bangsa-Yayasan Wage Rudolf Soepratman