Kemenhut melalui BKSDA Bengkulu tengah melakukan investigasi terkait temuan satu individu Harimau Sumatra yang ditemukan mati. Foto: Dok. Kemenhut.
BKSDA Bengkulu Investigasi Temuan Harimau Sumatra Mati di Mukomuko
Fachri Audhia Hafiez • 2 May 2026 14:40
Jakarta: Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu tengah melakukan investigasi terkait temuan satu individu Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang ditemukan mati. Satwa langka tersebut ditemukan warga di sebuah genangan di Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.
“Saat ini tim di lapangan tengah melakukan penanganan dan pendalaman untuk memastikan penyebab kematian, termasuk kemungkinan adanya unsur pelanggaran hukum,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ristianto menjelaskan bahwa laporan awal diterima BKSDA Bengkulu pada 30 April 2026. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim BKSDA bersama Polsek Penarik dan petugas Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan verifikasi dan pengamanan terhadap bangkai satwa tersebut.
"Kami menaruh perhatian serius terhadap setiap kejadian yang melibatkan satwa dilindungi, khususnya Harimau Sumatra sebagai spesies kunci," ujar Ristianto.

Tim BKSDA Bengkulu - Lampung bersama anggota kepolisian saat memeriksa lokasi penemuan Harimau Sumatera dalam kondisi mati. ANTARA/Anggi Mayasari.
Berdasarkan hasil identifikasi awal, harimau berjenis kelamin jantan itu ditemukan dalam kondisi tubuh yang masih utuh. Meskipun tim sudah berada di lapangan sejak Jumat malam, 1 Mei 2026, prosedur nekropsi atau bedah bangkai belum bisa dilakukan secara maksimal akibat kendala cuaca dan sarana pendukung.
Kondisi lapangan yang gelap disertai hujan deras, serta keterbatasan es pendingin untuk menjaga sampel medis, membuat tim memutuskan untuk melanjutkan proses pemeriksaan pada hari ini, Sabtu, 2 Mei 2026. Pelaksanaan nekropsi rencananya akan dipindahkan ke pos Resor Air Hitam guna mendapatkan hasil yang lebih akurat dan aman.
Kemenhut menegaskan bahwa penyebab pasti kematian predator puncak tersebut masih menunggu hasil analisis laboratorium dan pemeriksaan dokter hewan. Hingga saat ini, tim masih melakukan pendalaman di lapangan untuk mencari bukti-bukti tambahan di sekitar lokasi penemuan.
Langkah cepat dan terkoordinasi ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Kemenhut memastikan penanganan kasus ini akan dilakukan secara profesional dan berbasis ilmiah guna mengungkap apakah ada unsur kesengajaan atau tindak pidana dalam kematian satwa dilindungi tersebut.