Netanyahu dan Lindsey Graham Berkoordinasi untuk Melemahkan Pengadilan Kriminal Internasional

Mendiang Senator AS Lindsey Graham saat bertemu dengan PM Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Anadolu

Netanyahu dan Lindsey Graham Berkoordinasi untuk Melemahkan Pengadilan Kriminal Internasional

Fajar Nugraha • 30 July 2026 11:10

New York: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mendiang Senator Amerika Serikat Lindsey Graham dilaporkan diam-diam berkoordinasi menjelang pemilu Amerika Serikat 2024 untuk melemahkan kredibilitas Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Informasi tersebut diungkap The New York Times pada Rabu, 29 Juli 2026, berdasarkan rekaman yang diperoleh pembuat film asal Inggris, Alex Holder.

Rekaman itu menunjukkan Netanyahu meminta Graham menggalang surat bipartisan dari anggota parlemen Amerika Serikat guna memprotes rencana ICC menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya.

Netanyahu juga disebut mengusulkan agar tuduhan pelanggaran seksual terhadap Kepala Jaksa ICC saat itu, Karim Khan, dimanfaatkan untuk menciptakan keraguan terhadap proses hukum.

Dalam percakapan tersebut, Graham mengatakan telah berhasil memperoleh dukungan dua senator Partai Demokrat.

“Kami berhasil mendapatkan keduanya,” kata Graham kepada Netanyahu, merujuk pada Senator Richard Blumenthal dan Ben Cardin, dikutip dari Anadolu Kamis 30 Juli 2026.

Graham juga meminta Netanyahu menghubungi langsung kedua senator tersebut untuk menyampaikan terima kasih sekaligus menunjukkan ketertarikan terhadap normalisasi hubungan Israel dan Arab Saudi. Langkah itu disebut bertujuan mendorong agar dukungan mereka tetap berlanjut.

Surat bipartisan yang dirilis pada 1 November 2024 memuat tuduhan pelanggaran seksual terhadap Karim Khan serta menyatakan ICC tidak mematuhi prosedur hukum karena membatalkan pertemuan dengan pejabat Israel sebelum mengajukan surat perintah penangkapan. Khan membantah seluruh tuduhan tersebut, sementara negara-negara anggota ICC pada Jumat memutuskan memberhentikannya terkait kasus itu.

ICC kemudian menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada November 2024 atas dugaan kejahatan perang di Jalur Gaza. Konflik di wilayah tersebut telah menewaskan lebih dari 73.000 orang.

(Keysa Qanita)

(Fajar Nugraha)