Harga Minyak Turun usai Trump Menunda Serangan terhadap Iran

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Turun usai Trump Menunda Serangan terhadap Iran

Eko Nordiansyah • 19 May 2026 08:05

Houston: Harga minyak turun pada perdagangan awal Asia pada Selasa, 19 Mei 2026, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia telah menunda serangan yang direncanakan terhadap Iran dan bahwa negosiasi dengan negara tersebut sedang berlangsung.

AS memperpanjang pengecualian sanksi terhadap minyak Rusia yang diangkut melalui laut untuk mengimbangi gangguan pasokan di Timur Tengah, yang juga membantu menurunkan harga minyak mentah.

Dilansir dari Investing.com, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate untuk Juli turun 1,8 persen menjadi USD102,47 per barel. Kontrak berjangka dibuka lebih dari dua persen lebih rendah.

Trump menunda serangan terhadap Iran

Harga minyak mentah turun terutama setelah Trump mengatakan dia menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Iran, dan bahwa "negosiasi serius" sedang berlangsung.

Serangan itu awalnya direncanakan untuk hari Selasa, dengan Trump menyatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa dia telah diminta untuk mundur oleh negara-negara Teluk.

(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Namun, Trump memperingatkan bahwa AS akan melanjutkan "serangan skala besar penuh terhadap Iran" jika tidak ada kesepakatan yang tercapai. Dia juga menegaskan kembali bahwa negara itu tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Harga minyak telah naik tajam selama dua minggu terakhir karena sejumlah laporan menunjukkan AS dan Israel mempertimbangkan lebih banyak tindakan militer terhadap Iran.

Selat Hormuz tetap tertutup

Selat Hormuz juga tetap tertutup secara efektif, mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia.

Departemen Keuangan AS pada hari Senin mengumumkan perpanjangan 30 hari lagi dalam pengecualian sanksi yang memungkinkan pembelian minyak Rusia yang diangkut melalui laut, terutama oleh negara-negara yang dianggap rentan terhadap gangguan dari perang Iran.

Langkah ini membuat Departemen Keuangan membatalkan rencana sebelumnya untuk tidak memperpanjang pengecualian tersebut.

Sejumlah negara Asia, termasuk importir utama China dan India, mengalami gangguan pasokan minyak akibat perang Iran.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)