Presiden Prabowo Subianto memberi taklimat saat Rapat Kerja Pemerintah dengan Kabinet Merah Putih berserta seluruh Eselon I K/L dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kye.
Prabowo Ingatkan Bahaya Hoaks dan Fitnah di Medsos dapat Rusak Negara
Fachri Audhia Hafiez • 8 April 2026 17:49
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto mengingatkan terkait potensi kerusakan negara akibat penyebaran hoaks dan fitnah melalui media sosial (medsos). Dalam arahannya, Kepala Negara menyebut perkembangan teknologi digital saat ini telah mengubah peta ancaman terhadap kedaulatan sebuah bangsa menjadi lebih kompleks.
"Dulu kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks," kata Prabowo dalam taklimat pada rapat kerja pemerintah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 8 April 2026.
Presiden menjelaskan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), memungkinkan manipulasi opini publik secara masif. Dengan perangkat yang terjangkau, seseorang kini bisa mengelola ribuan akun sekaligus untuk menciptakan narasi tertentu yang seolah-olah didukung oleh banyak pihak.
Prabowo menyoroti fenomena echo chamber yang mampu memperbesar suatu isu hingga terlihat sangat masif, meski hanya digerakkan oleh kelompok kecil.
Menurutnya, metode ini merupakan bagian dari taktik intelijen modern untuk menciptakan kekacauan di suatu negara tanpa perlu serangan fisik.
"Jadi, yang agak repot mungkin 100 orang, 200 orang, mungkin 1.000 orang, mungkin 5.000 orang bisa bikin heboh. Nah ini namanya echo chamber. Ada ini dalam pembelajaran intelijen, ini ada, bagaimana merusak sebuah negara lain," tegas Prabowo.

Presiden Prabowo Subianto memberi taklimat saat Rapat Kerja Pemerintah dengan Kabinet Merah Putih berserta seluruh Eselon I K/L dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kye.
Dalam agenda tersebut, Presiden mengumpulkan seluruh jajaran menteri, wakil menteri, hingga pejabat eselon I guna memastikan kesamaan pemahaman dalam pelaksanaan kebijakan. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Angga Raka Prabowo, menyebut koordinasi langsung ini penting demi menjaga soliditas kesatuan birokrasi.
"Bapak Presiden merasa penting untuk menyampaikan juga secara langsung kepada seluruh eselon I, karena kita semua ini kesatuan. Di sebuah kementerian ada menteri, didukung oleh para eselon I, dan jajaran di bawahnya," ujar Angga.