MSCI Coret Emiten Indonesia dari Indeks, OJK: Status Emerging Market Aman

Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com.

MSCI Coret Emiten Indonesia dari Indeks, OJK: Status Emerging Market Aman

Richard Alkhalik • 22 May 2026 14:51

Jakarta: Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan enam emiten dari konstituen indeksnya pada akhir Mei 2026. Mayoritas perusahaan yang dicoret tersebut diketahui memiliki afiliasi kuat dengan konglomerat terkaya di Indonesia.

Melansir VnExpress, Jumat, 22 Mei 2026, dua dari enam emiten tersebut sebelumnya telah masuk dalam radar pengawasan otoritas pasar modal domestik akibat struktur kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi. Kondisi ini sejalan dengan fokus evaluasi MSCI terhadap pasar ekuitas Indonesia yang dijadwalkan rampung pada Juni 2026.

Sejak Januari lalu, MSCI menyoroti isu transparansi ekuitas di Indonesia. Peringatan tersebut sempat memicu tekanan di bursa domestik lantaran munculnya kekhawatiran akan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi frontier market atau berada pada tahap pengembangan di bawah emerging market, yang menyebabkan otoritas meningkatkan upaya reformasi integritas pasar.

Merespons pengumuman MSCI tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi hingga 1,9 persen, menyentuh level terendahnya dalam lebih dari setahun terakhir. Kendati demikian, pemerintah dan pelaku pasar menyatakan dinamika penyusutan ini sebagian besar telah diantisipasi.
 

Indonesia tingkatkan kualitas pasar modal


Kalangan pelaku pasar menilai pencoretan ini berpotensi membuka jalan bagi MSCI untuk segera mencabut larangan penambahan emiten baru dari Indonesia ke dalam indeksnya. Optimisme ini didasari oleh serangkaian reformasi pro-investor yang telah diterapkan oleh otoritas.

"Kami melihat kemungkinan besar Indonesia akan menghindari penurunan peringkat menjadi status frontier market (pasar perbatasan)," kata Kepala Riset Ekuitas Indonesia di Macquarie Capital Ari Jahja, dikutip VnExpress, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.


 

Senada dengan hal tersebut, Manajer Portofolio di Allspring Global Investments Gary Tan menilai penyeimbangan ulang atau rebalancing dari MSCI merupakan langkah konstruktif dalam upaya membersihkan saham-saham dengan tata kelola yang lemah, sekaligus mendukung langkah Indonesia dalam meningkatkan kualitas pasar secara makro.

Ia memperkirakan tekanan pada pasar akan berlanjut hingga periode rebalancing pada 29 Mei dan awal Juni seiring penyesuaian yang dilakukan oleh dana pasif.

Menurut data bursa, investor asing tercatat telah melepas kepemilikan saham di Indonesia senilai USD2,2 miliar di sepanjang tahun ini. Sementara itu, riset Goldman Sachs memproyeksikan akan ada arus modal keluar atau capital outflow tambahan sekitar USD1,6 miliar sebagai imbas langsung dari rebalancing tersebut.
 

Daftar saham terdampak dan respons OJK


Secara pergerakan, harga saham mayoritas perusahaan yang didepak dari indeks anjlok sekitar 10 persen. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi pengecualian dengan koreksi yang lebih terbatas, yakni hanya turun 1,8 persen, lantaran operator minimarket Alfamart tersebut hanya dipindahkan ke dalam Indeks MSCI Indonesia Small Cap.

Gary Tan menambahkan, aksi jual terfokus pada saham-saham yang kepemilikannya sangat terkonsentrasi dengan rasio saham free float yang rendah, serta minimnya kepemilikan aktif dari investor asing.

Tiga dari emiten yang terdampak yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), sebelumnya masuk dalam jajaran 10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Maret 2026. BREN dan DSSA merupakan emiten yang secara khusus sempat disorot karena tingginya konsentrasi kepemilikan.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, mengatakan reaksi pasar masih berada dalam batas kewajaran dan tidak mengindikasikan adanya aksi panic selling.

Menurut dia, keputusan MSCI justru merefleksikan keberhasilan langkah-langkah reformasi yang telah digulirkan otoritas sejak Februari. Reformasi tersebut mencakup pengetatan syarat transparansi rincian kepemilikan saham dan peningkatan rasio free float.

"Tentu saja, reformasi yang lebih berani terkait integritas pasar, dengan tujuan menjadikan pasar kita lebih kredibel dan layak investasi akan terus dilanjutkan dalam jangka menengah hingga panjang," kata Fawzi, dikutip VnExpress.

Selain emiten berkapitalisasi jumbo, sejumlah perusahaan small cap yang turut terdampak pencoretan ini antara lain emiten tambang PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), perusahaan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) milik konglomerat Astra Group, dan pengembang properti milik Sinar Mas Group PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)