Silent Disco Run di Bali Jadi Polemik, Intip Perkembangan Tren Lari Rasa Party

Disco Silent Run di Bali. Tangkapan layar instagram @entourage.runclub

Silent Disco Run di Bali Jadi Polemik, Intip Perkembangan Tren Lari Rasa Party

Muhamad Marup • 24 July 2026 18:34

Jakarta: Silent Disco Run di Bali kembali menjadi sorotan. Usai viral ketika pertama digelar, event lari yang menggabungkan olahraga lari dengan musik disko melalui headphone itu dikritik usai menolak keterlibatan warga lokal.

Tren menggabungkan lari dan disko bukan hanya dilakukan di Bali. Running Reaves sebuah gerakan yang menaungi kolaborasi tersebut mencuri perhatian publik global ketika pertama kali digelar di Sao Paolo, Brasil.

Melansir berbagai sumber, berikut perkembangan lari rasa party hingga menjadi polemik di Bali.

Jadi Tren di Berbagai Negara

Mengutip medcom.id, Running Raves mulai jadi tren di berbagai belahan dunia. Pacetronik rutin menggelar aktivitas tersebut dan berhasil mengumpulkan massa anak muda dalam jumlah yang masif.

Gerakan ini telah menggelar dua event yang sukses pada 23 April dan 20 Juni lalu. Salah satu bukti keberhasilan gerakan ini adalah adanya sponsor dari perusahaan seperti ASICS Brasil.

Melansir runningraves.run, Running Rave adalah lari berkelompok menyusuri jalanan kota — dengan sistem suara, set DJ, lampu neon, dan energi layaknya sebuah acara malam. Meski menggunakan aktivitas berlari, tapi inti dari gerakan ini adalah suasana, bukan performa.

Tren Running Raves di Brazil (dok. Instagram/Pacetronik)


Event terdekat gerakan ini akan berlangsung di Barcelona, Spanyol pada musim panas 2026. Madrid, London, Amsterdam, dan Berlin menjadi kota yang akan menggelar event serupa selanjutnya.

Konsep Unik dan Polemik di Bali

Bali mengadopsi konsep tersebut, tapi Entourage sebagai inisiator melakukan penyesuaian dengan menggunakan headphone nirkabel ketika peserta berlari di kawasan Canggu. Sosial dan budaya sepertinya menuntut penyesuaian tersebut.

"Anda tidak membuat kebisingan karena Anda mengenakan headphone silent disco," kata inisiator kepada news.com.au.

Aktivitas tersebut mendapat antusiasme luar biasa. Di event pertamanya, sebanyak 150 peserta yang didominasi warga negara asing (WNA) ikut serta sehingga panitia kekurangan headphone.

Namun, tidak semua orang melihatnya sebagai sesuatu yang positif. Kritik muncul terutama dari warga lokal. Mereka menilai acara tersebut mengganggu aktivitas harian mereka.

Terbaru, acara yang seharusnya terbuka untuk umum itu justru menuai polemik karena menolak keikutsertaan warga lokal. Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi menindak dua WNA dari Entourage Run atas dugaan tindakan diskriminatif. Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Aryasandi, mengungkapkan tim dari Polres Badung saat ini tengah turun ke lapangan untuk menyelidiki perizinan terkait video viral yang mempersyaratkan acara itu hanya dapat diikuti WNA dan melarang keterlibatan WNI satu pun.

"Polres Badung saat ini sementara turun melakukan penyelidikan, apakah ada izin resmi di kepolisian terdekat atau tidak ada izin dan apakah betul melarang WNI untuk ikut berpartisipasi dalam event tersebut," ujar Aryasandi, Jumat, 24 Juli 2026.

(Muhamad Marup)