Kerusakan akibat serangan Israel di Lebanon. (Anadolu Agency)
Israel dan Hizbullah Sepakati Gencatan Senjata di Lebanon
Willy Haryono • 20 June 2026 09:01
Beirut: Israel dan kelompok Hizbullah menyepakati gencatan senjata di Lebanon pada Jumat, 19 Juni, setelah meningkatnya pertempuran di negara tersebut mengancam prospek tercapainya kesepakatan damai yang lebih luas di Timur Tengah.
Dikutip dari AsiaOne, Sabtu, 20 Juni 2026, kesepakatan itu dicapai ketika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss harus ditunda akibat memburuknya situasi keamanan di Lebanon.
Perkembangan tersebut menimbulkan ketidakpastian baru terhadap proses diplomasi yang dinilai penting untuk memastikan kembali terbukanya Selat Hormuz bagi pelayaran global.
Gedung Putih tidak menjelaskan secara rinci alasan penundaan perundingan tersebut. Namun, dalam pernyataan pada Kamis malam, pemerintah AS mengatakan bahwa aspek logistik perundingan "tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi."
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengatakan kepada NBC News bahwa dirinya telah berbicara dengan pihak Israel dan meminta agar gencatan senjata disetujui.
"Kadang-kadang Anda harus menenangkan diri dan menggunakan akal sehat," kata Trump seperti dikutip NBC News.
Ia tidak menjelaskan apakah percakapan tersebut dilakukan langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Seorang pejabat senior AS mengatakan gencatan senjata mulai berlaku sekitar pukul 16.00 waktu Lebanon setelah kedua pihak saling melancarkan serangan. Menurut pejabat tersebut, negosiator dari AS dan Qatar membantu merumuskan kesepakatan dengan dukungan dari Iran.
Dua sumber yang berafiliasi dengan Hizbullah serta seorang pejabat senior Israel mengonfirmasi kepada Reuters bahwa kesepakatan gencatan senjata telah tercapai.
"Jika Hizbullah tidak menyerang kami, maka bagi kami ini bukan masa perang," kata pejabat Israel tersebut.
Ia menambahkan bahwa Israel akan tetap mempertahankan pasukannya di Lebanon selatan, wilayah yang diduduki di sepanjang perbatasan utara Israel.
Dua sumber keamanan Lebanon mengatakan Israel melancarkan sekitar 12 serangan udara pada satu jam pertama setelah gencatan senjata berlaku. Namun, tidak ada serangan yang tercatat setelah pukul 17.00 waktu setempat.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan Israel sejak tengah malam hingga Jumat menewaskan 47 orang dan melukai 97 lainnya.
Sementara itu, militer Israel mengatakan empat tentaranya tewas dalam sebuah insiden di Lebanon, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai kejadian tersebut.
Para pengamat menilai konflik di Lebanon dapat memengaruhi jalannya negosiasi antara AS dan Iran. Penghentian pertempuran di Lebanon disebut menjadi salah satu syarat penting bagi terwujudnya kesepakatan yang lebih luas antara Washington dan Teheran.
Baca juga: Serangan Israel di Lebanon Bayangi Kesepakatan Damai AS-Iran