Seniman tampil dalam rangkaian pembukaan Djakarta International Theater Platform 2026 di Taman Ismail Marzuki. (Foto: DKJ 4/Andi Maulana)
Kembali Digelar, Djakarta International Theater Platform 2026 Usung Tema '(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map'
Patrick Pinaria • 7 August 2026 14:06
Jakarta: Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menggelar Djakarta International Theater Platform (DITP). Pada penyelenggaraan tahun ini, DITP mengusung tema '(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map' melalui pendekatan 'Antara sebagai Metode'.
Penyelenggaraan DITP 2026 berangkat dari kondisi dunia yang tengah mengalami pergeseran akibat gesekan geopolitik, krisis lingkungan, serta konflik global yang semakin kompleks. Dalam situasi tersebut, kesenian dipandang sebagai ruang yang memungkinkan imajinasi kemanusiaan tetap bergerak sekaligus membuka kemungkinan baru di tengah identitas, wilayah, dan pengetahuan yang semakin dipadatkan oleh sistem-sistem yang kaku.
Melalui tema tersebut, gagasan Bumantara yang diajukan Sutan Takdir Alisjahbana dibaca kembali sebagai landasan yang terus berkembang untuk menjembatani imajinasi kawasan pada abad ke-20 dengan kesadaran dunia baru saat ini.

Salah satu seniman menyampaikan pertunjukan performatif dalam rangkaian Djakarta International Theater Platform 2026. (Foto: DKJ 4/Andi Maulana)
Pendekatan 'Antara sebagai Metode' menawarkan dua kemungkinan, yakni menangguhkan cara pandang kartografis yang mapan agar tidak tergesa-gesa mengidentifikasi dan mengategorikan sesuatu, sekaligus menyadarkan adanya peta-peta tak terlihat yang membentuk persepsi dan pengetahuan. Dalam kerangka tersebut, wilayah dan pengalaman dipahami sebagai relasi yang terus bergerak, melampaui dikotomi seperti Barat dan Timur maupun Tradisi dan Modernitas.
DITP 2026 pun diposisikan sebagai ruang interval yang mempertemukan berbagai gagasan, praktik, dan pengalaman sehingga dapat saling berlapis serta mentransformasikan satu sama lain. Tubuh ditempatkan sebagai kartograf baru yang menjadi antarmuka antara yang sekala (terukur) dan niskala (metafisik).
Melalui pengalaman ketubuhan, wilayah tidak lagi dibaca semata berdasarkan batas administratif, tetapi juga melalui sirkulasi energi, relasi kosmologis, dan keterhubungan antarmakhluk. Karena itu, setiap karya, diskusi, dan pertemuan dalam DITP 2026 dihadirkan sebagai laboratorium yang membuka kemungkinan baru dalam membaca peta-peta yang tak terlihat serta mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana mediasi dipertunjukkan dan relasi antara penonton dengan penyaji.
Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (2023–2026), Yustiansyah Lesmana, mengatakan Djakarta International Theater Platform menjadi ruang yang mempertemukan berbagai pengalaman dan cara pandang.
"Selama beberapa hari ke depan, Djakarta International Theater Platform menjadi rumah bagi pertemuan-pertemuan itu. Para seniman datang membawa pengalaman, ingatan, kegelisahan, dan harapan dari tempat yang berbeda. Setiap orang datang dengan pengalaman dan pertanyaannya masing-masing. Semoga beberapa hari ini memberi kita kesempatan untuk saling memperluas cara melihat," ujar Yustiansyah.
Dalam programnya, DITP 2026 menghadirkan empat pertunjukan pada program Staging, yakni dracom (Jepang), Jean-Baptise Phou (Kamboja), rokateater (Indonesia), dan Runsmitter Club (Indonesia). Selain itu, terdapat tiga International Co-Production Presentation dalam program Proposisi, yaitu Her Lab Space (Taiwan), Thread (Ukraina), dan Kelola (Indonesia).
Program lainnya meliputi empat Presentasi Forum Inkubasi dalam Eksposisi, yakni Bangkok International Performing Arts Meeting (BIPAM), Sino Japanese, Precog, dan Kelola. DITP 2026 juga menghadirkan dua Simposium International serta Opening Festival dalam bentuk Percakapan Performatif yang menjadi pembuka pembacaan tema '(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map'.

Pembacaan naskah menjadi salah satu bentuk eksplorasi artistik yang dihadirkan dalam Djakarta International Theater Platform 2026. (Foto: DKJ 4/Andi Maulana)
Ketua Dewan Kesenian Jakarta (2023–2026), Bambang Prihadi, mengatakan Djakarta International Theater Platform tidak hanya menjadi wadah pertunjukan, tetapi juga ruang dialog mengenai masa depan melalui teater.
"Platform ini bukan sekadar menghadirkan pertunjukan, melainkan merawat percakapan, mempertemukan pengalaman artistik, membangun kolaborasi, dan memperluas jejaring internasional yang berkelanjutan. Melalui teater, kita diajak bukan sekadar mencari jawaban, melainkan memelihara keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru tentang masa depan bersama," ungkap Bambang Prihadi.
Djakarta International Theater Platform 2026 '(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map' akan terselenggara pada 5-8 Agustus 2026 di seputar area Taman Ismail Marzuki; Graha Bhakti Budaya, Teater Kecil, Teater Wahyu Sihombing, Promenade Area, Paviliun Raden Saleh, dan Studio Latihan Teater Teguh Karya. Seluruh program Djakarta International Theater Platform 2026 '(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map' dapat diunduh melalui www.ditp.web.id.