Ilustrasi-kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.
Kekeringan di Kabupaten dan Kota Tangerang Meluas, Ribuan Jiwa Terdampak
Hendrik Simorangkir • 6 August 2026 18:46
Tangerang: Bencana kekeringan akibat kemarau dan fenomena El Nino meluas di wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang, Banten. Ribuan warga dilaporkan mulai mengalami krisis air bersih, sehingga pemerintah daerah kedua wilayah tersebut menetapkan status siaga.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, krisis air bersih di Kabupaten Tangerang, telah berdampak pada 6.260 jiwa yang tersebar di 64 kelurahan. Terdapat 13 kecamatan terdampak, meliputi Legok, Tigaraksa, Jambe, Panongan, Rajeg, Kronjo, Curug, Kelapa Dua, Cikupa, Sukadiri, Balaraja, Mekar Baru, serta Pagedangan.
"Sebanyak 1.565 kepala keluarga atau 6.260 jiwa mengalami krisis air bersih," kata Taufik, Kamis, 6 Agustus 2026.
Untuk menanggulangi krisis, pihak BPBD Kabupaten Tangerang berkoordinasi dengan instansi terkait seperti PMI, Perkim, PDAM, dan sektor swasta untuk menyalurkan bantuan air bersih. "Alhamdulillah seluruhnya air terpenuhi," kata Taufik.
Sementara itu, di wilayah Kota Tangerang, BPBD setempat juga tengah memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan. Status waspada kekeringan meteorologis saat ini melingkupi Kecamatan Benda, Cipondoh, Pinang, dan Tangerang.
"Sedangkan wilayah dengan status awas kekeringan meteorologis terdapat di Kecamatan Batuceper. Itu berdasarkan laporan dari BMKG," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, di hari yang sama.
.jpg)
Ilustrasi.
Menurut Mahdiar, berdasarkan hasil analisis BMKG, Kota Tangerang masih berada dalam periode musim kemarau dengan curah hujan yang diprediksi rendah hingga September 2026. Selain itu, fenomena El Nino turut meningkatkan potensi terjadinya kekeringan.
"Sehingga diperlukan kewaspadaan dari seluruh elemen masyarakat," kata Mahdiar.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Kota Tangerang berkolaborasi dengan sejumlah dinas terkait guna menyusun kajian penerapan siaga hidrometeorologi kekeringan, serta mendata sarana prasarana kesiapan. Rencananya, pemerintah kota akan memberlakukan surat keputusan siaga hidrometeorologi kekeringan sebagai standar kebencanaan dan bahan kewaspadaan.
"Kami mulai berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk menyiapkan 20 armada bantuan air bersih dan 5 tangki air yang nanti akan dikirimkan ke wilayah yang membutuhkan," jelas Mahdiar.
Langkah mitigasi ini turut didukung oleh unsur TNI dan Polri yang menyiagakan beberapa unit mobil tangki air bersih tambahan. Selain itu, juga disiagakan delapan pos pelayanan serta mengerahkan sejumlah personel.