Personel Satgas Karthula Kotim berjuang melakukan pemadaman kebakaran hingga malam hari, Minggu, 9 Agustus 2026. ANTARA/HO-BPBD Kotim
BPBD Kotim Ubah Strategi Pemadaman Karhutla ke Waktu Subuh
Silvana Febiari • 11 August 2026 16:24
Kotawaringin Timur: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mengubah strategi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menargetkan waktu subuh. Kondisi angin yang lebih lemah pada waktu tersebut dinilai memungkinkan api dipadamkan secara lebih optimal.
“Secara taktis waktu kami akan atur, kami akan melakukan pemadaman subuh. Karena waktu itu kecepatan angin rendah, sehingga kami bisa melakukan pemadaman secara total,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, dilansir dari Antara, Selasa, 11 Agustus 2026.
Perubahan strategi tersebut merupakan bagian dari hasil analisis dan evaluasi setelah pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat karhutla.
Evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas penanganan sekaligus menyusun strategi baru menghadapi karhutla yang terus meluas dan mulai berdampak pada permukiman. Salah satu pertimbangan utama adalah dampak kebakaran terhadap kesehatan masyarakat.
Untuk itu, BPBD berupaya mengoptimalkan kinerja satuan tugas di lapangan dengan mengatur kembali waktu dan pola pemadaman agar api aktif dapat diputus secepat mungkin.
“Jadi upaya-upaya maksimal dari tim satgas darat selama ini sebenarnya sudah cukup bagus, hanya saja tactical waktu yang akan kita atur. Kita berharap fire active (kebakaran aktif) bisa cepat kita putus," ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 9 Agustus 2026, tercatat 218 kejadian karhutla. Kebakaran tersebut menghanguskan lebih dari 385 hektare lahan yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Selain kejadian kebakaran, pemantauan terhadap titik panas juga menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai. Akumulasi titik panas di Kotim sejak Januari hingga saat ini mencapai 1.531 titik tersebar di seluruh kecamatan.
Saat ini, karhutla semakin kompleks karena sejumlah titik api telah mendekati kawasan perumahan. Beberapa lokasi yang menjadi perhatian, antara lain Jalan Pandawa, Jalan Bumi Raya, Jalan Walter Hugo dan Kilometer 7-8 Jalan Tjilik Riwut.
Kebakaran juga terjadi di sekitar kebun masyarakat yang sebagian baru ditanami sekitar dua tahun. Sebagian kejadian diduga berkaitan dengan pembukaan lahan menggunakan cara membakar, namun api meluas akibat kondisi angin yang kencang.
“Mereka ingin membuka kebun dengan cara membakar, tetapi mereka lupa bahwa kecepatan angin dampaknya sangat luar biasa,” ujarnya.
.jpg)
Petugas berusaha memadamkan kebakaran lahan di Jalan Jenderal Sudirman Km 4 yang menjalar mendekati Perumahan Pandawa, Sampit, Kamis malam, 6 Agustus 2026. ANTARA/HO-BPBD Kotim
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pencegahan agar api tidak merambat ke permukiman dan kawasan lain yang dihuni masyarakat.
BPBD juga mulai memperhitungkan daya tahan personel yang telah bekerja dalam waktu panjang. Sebagian petugas bahkan harus bekerja lebih dari 12 jam per hari, dengan beberapa di antaranya 16 hingga 18 jam.
“Perjalanan kita masih panjang. Kita baru sekitar dua per lima atau satu per enam, sementara ancaman masih terjadi sekitar lima bulan ke depan,” ungkapnya.
Pengaturan ritme kerja menjadi penting agar kekuatan personel tetap terjaga. Saat ini, sekitar 150 personel bertugas setiap hari, ditambah dukungan relawan, termasuk dari Palang Merah Indonesia (PMI).
Secara fisik, sebagian besar petugas masih mampu menjalankan tugas. Namun, tanda-tanda kelelahan mulai terlihat karena sejumlah personel meminta izin tidak bertugas akibat kondisi tubuh yang menurun.
“Saya yakin dalam hitungan tujuh hari ke depan pasti ada yang tumbang. Sudah banyak yang izin karena kelelahan, ada juga yang sakit, tetapi yang paling banyak karena kelelahan,” paparnya.
Untuk menjaga stamina, BPBD berupaya memastikan kebutuhan makanan dan minuman petugas tetap terpenuhi. Dukungan relawan juga dinilai membantu, termasuk bantuan minuman dan makanan bergizi bagi personel yang berada di lapangan.