Berawal dari Nyeri Lengan, Berujung Cuan Bisnis Minyak Balur

Ilustrasi rempah-rempah. Foto: dok MI/Andri Widiyanto.

Berawal dari Nyeri Lengan, Berujung Cuan Bisnis Minyak Balur

Ade Hapsari Lestarini • 20 January 2026 18:37

Bandung: 2015 menjadi titik balik bagi kehidupan Prapti dan suaminya, Hernawan. Saat itu, Prapti mengalami saraf kejepit di lengan kanan yang membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Mengangkat barang terasa berat, menyetir tak lagi nyaman, bahkan mencuci piring pun terasa menyiksa.

Harapan muncul dari rekomendasi sederhana seorang teman menyarankan mencoba Minyak Kutus Kutus, produk minyak herbal yang kala itu mulai dikenal lewat testimoni dari mulut ke mulut.

"Awalnya kami hanya ingin mencoba. Saya balurkan rutin selama satu bulan penuh," tutur Prapti.

Perubahan mulai dirasakan pada bulan kedua. Nyeri di lengan kanan Prapti berangsur membaik hingga bisa kembali menyetir dan melakukan pekerjaan rumah tanpa rasa nyeri berlebihan. Memasuki bulan ketiga, kondisinya nyaris pulih total. Pengalaman pribadi inilah yang kemudian mengubah arah hidup pasangan asal Bandung tersebut.
 

Dari pengguna menjadi penggiat


Didorong keinginan berbagi, Prapti bergabung dalam grup WhatsApp pengguna Kutus Kutus. Di komunitas itu, para pengguna saling bertukar pengalaman dan informasi seputar manfaat serta cara penggunaan produk. Tak berhenti pada berbagi cerita, Prapti dan Hernawan mulai menjual Kutus Kutus sembari mengedukasi masyarakat.

"Bulan pertama kami coba serius jualan, ternyata bisa tembus sekitar 250 botol," timpal Hernawan.
 



Angka tersebut menjadi pemicu semangat. Mereka melihat peluang bukan hanya sebagai usaha, melainkan juga sebagai sarana membantu orang lain merasakan manfaat yang sama. Keseriusan pasangan ini menarik perhatian manajemen Kutus Kutus. Pada 2016, mereka diundang ke Bali untuk mengunjungi langsung lokasi produksi.

"Kami bahkan dijemput langsung oleh Pak Arniel di bandara," kenang Hernawan.

Dalam kunjungan itu, mereka ditawari menjadi distributor resmi dengan target awal 3.000 botol per bulan. Target itu berhasil dicapai, bahkan kemudian dinaikkan menjadi 5.000 botol per bulan, dan kembali sukses.
 

Tumbuh menjadi distributor nasional


Berbekal jaringan yang terus berkembang serta kelengkapan legalitas produk Kutus Kutus, termasuk sertifikat HAKI dan BPOM. Prapti dan Hernawan berhasil membawa Kutus Kutus masuk ke jaringan ritel besar. Langkah ini menandai fase baru: dari pegiat komunitas menjadi distributor nasional.

"Legalitas produk sangat membantu. Ditambah testimoni nyata dari para pengguna, itu membuat kepercayaan pasar semakin kuat," ujar Prapti.

Menurut mereka, kunci utama kesuksesan adalah pendekatan berbasis komunitas. Mereka aktif menjual dan mengedukasi di kelompok sekolah, perkantoran, pasar tradisional, komunitas lokal.

Tak hanya itu, mereka juga memanfaatkan media sosial untuk berbagi pengalaman pribadi, tips penggunaan, dan product knowledge seputar Kutus Kutus.

"Orang lebih percaya kalau dengar langsung dari pengalaman nyata, bukan sekadar iklan," kata Hernawan.

Memasuki 2026, mereka berharap penataan ulang jaringan distribusi Kutus Kutus semakin memperkuat posisi brand ini di pasar nasional. "Dengan sistem yang lebih rapi dan edukasi yang konsisten, kami optimistis Kutus Kutus bisa menjangkau lebih banyak masyarakat," kata Hernawan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)