Bedah buku Penyirep Gemuruh di Masjid Gedang PPBU Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Foto: Dok. Istimewa.
Bedah Buku Muktamar NU Tekankan Pentingnya Sikap Moderat Organisasi
Fachri Audhia Hafiez • 30 August 2026 15:23
Jombang: Gagasan serta langkah historis pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), yang teruang dalam buku Penyirep Gemuruh dinilai relevan untuk menjawab berbagai dinamika dan persoalan sosial masa kini. Pendekatan moderat serta tradisi musyawarah yang dicontohkan Mbah Wahab dinilai patut terus diteladani.
"Karakter NU yang selama ini kita pahami sebagai tawassuth, tawazun, tasamuh, i'tidal. Yaitu moderat, toleran, lalu tawazun itu seimbang, dan i'tidal yaitu adil," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Muhammad Sarmuji saat menjadi pembicara dalam bedah buku Penyirep Gemuruh di Masjid Gedang Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dikutip Minggu, 30 Agustus 2026.
Baca Juga :
Sarmuji menjelaskan, keteladanan Mbah Wahab tercermin dari kemampuannya merangkul berbagai pihak saat menyelesaikan konflik perluasan Masjid Peneleh di Surabaya. Mbah Wahab tidak hanya berpatokan pada perspektif hukum fikih, tetapi juga terbuka mendengarkan argumentasi dari pakar di luar bidang keagamaan guna mencapai solusi terbaik.
Menurutnya, pemikiran Mbah Wahab memberikan pelajaran berharga bahwa sebuah perselisihan tidak harus disikapi dengan memperbesar pertentangan, melainkan diselesaikan secara sejuk, seimbang, dan mengedepankan dialog.
Penemu naskah kuno Penyirep Gemuruh dari Komunitas Pegon Banyuwangi, Ayung Notonegoro, membagikan kisah perjuangannya saat melacak naskah tersebut pada 2016. Kitab bersejarah itu ditemukan di dalam lemari tua milik Kiai Saleh di Pesantren Lateng yang sempat terkunci belasan tahun.
"Nah, dari sana kemudian terjadilah trust, tumbuh kepercayaan itu. Akhirnya kami diberikan kepercayaan untuk membuka lemari yang sudah belasan tahun tergembok itu. Tidak apa-apa, kalau saya sakit demi ilmu pengetahuan," ujar Ayung.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji (kanan) saat menjadi pembicara dalam bedah buku Penyirep Gemuruh di Masjid Gedang PPBU Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Foto: Dok. Istimewa.
Penerjemah kitab Penyirep Gemuruh, Fathul H Panatapraja, menambahkan bahwa isi kitab tersebut mengupas kepiawaian Mbah Wahab dalam meredam ketegangan sosial melalui penggabungan pemahaman fikih yang matang dan pemetaan kondisi masyarakat yang tepat.
"Proses penyelesaian konflik yang diselesaikan Mbah Wahab tidak hanya lewat pendekatan dialog, tapi pencarian solusi dari sudut pandang hukum fikih," kata Fathul.
Acara bedah buku yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur ini merupakan bagian dari agenda kebudayaan untuk menyemarakkan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang.