Vance Belum Dapat Pastikan Kapan Trump Akan Tandatangani Kesepakatan dengan Iran

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. (Anadolu Agency)

Vance Belum Dapat Pastikan Kapan Trump Akan Tandatangani Kesepakatan dengan Iran

Muhammad Reyhansyah • 29 May 2026 09:46

Washington: Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan Washington dan Iran telah mencapai kemajuan signifikan dalam perundingan, namun belum dapat dipastikan kapan atau apakah Presiden AS Donald Trump akan menandatangani kesepakatan yang sedang dibahas kedua pihak.

Vance mengatakan masih terdapat sejumlah perbedaan terkait stok uranium yang telah diperkaya Iran dan isu pengayaan uranium itu sendiri.

“Sulit untuk mengatakan secara pasti kapan atau apakah presiden akan menandatangani kesepakatan tersebut. Kami masih membahas beberapa poin bahasa. Kami telah membuat banyak kemajuan,” kata Vance kepada wartawan, dikutip dari TRT World, Jumat, 29 Mei 2026.

“Saya tidak bisa menjamin bahwa kami akan sampai ke tahap itu, tetapi saat ini saya merasa cukup optimistis,” lanjutnya.

Vance, yang disebut memainkan peran penting dalam negosiasi, mengatakan Iran sejauh ini berunding dengan “itikad baik” dan kedua pihak sama-sama ingin membuka kembali Selat Hormuz.

Meski demikian, ia menegaskan masih terdapat perbedaan pandangan mengenai stok uranium yang diperkaya Iran.

“Ada beberapa isu terkait masalah nuklir, stok uranium yang diperkaya tinggi, dan juga persoalan pengayaan,” ujarnya.

“Mudah-mudahan kami terus membuat kemajuan dan presiden berada dalam posisi untuk mendukung kesepakatan tersebut, tetapi hal itu masih harus ditentukan,” tambah Vance.

Sejak awal perang AS-Israel melawan Iran, Trump dan timnya menyatakan salah satu tujuan utama operasi tersebut adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.

Namun, Vance mengatakan hasil konflik tersebut telah menempatkan Washington dalam posisi yang mampu menghambat program nuklir Iran secara signifikan dalam jangka panjang.

“Kami berada pada posisi di mana kami dapat secara substansial memundurkan program nuklir mereka, bukan hanya selama masa jabatan presiden ini tetapi juga dalam jangka panjang,” katanya.

Rincian Kesepakatan Masih Dibahas

Sejumlah sumber AS sebelumnya mengonfirmasi laporan Axios yang menyebut kesepakatan tersebut akan membuka kembali Selat Hormuz, tetapi belum menyelesaikan persoalan program nuklir Iran yang akan dibahas dalam perundingan lanjutan.

Menurut laporan itu, kesepakatan berdurasi 60 hari akan menjamin pelayaran di Selat Hormuz berlangsung tanpa pembatasan, pungutan, maupun gangguan. Iran juga disebut harus menyingkirkan seluruh ranjau di kawasan itu dalam waktu 30 hari.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran secara bertahap sesuai pemulihan aktivitas pelayaran komersial.

MoU tersebut juga disebut mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Salah satu isu pertama yang akan dibahas setelah kesepakatan tercapai adalah cara menangani persediaan uranium yang telah diperkaya milik Iran.

Namun, kantor berita Tasnim yang mengutip sumber dekat tim negosiator Iran melaporkan teks kesepakatan belum dirampungkan. Menurut sumber tersebut, Pakistan sebagai mediator akan diberi tahu apabila kesepakatan benar-benar tercapai.

Sumber Iran yang dikutip media lokal juga mengatakan kesepakatan hanya dianggap final apabila diumumkan oleh Tehran, bukan secara sepihak oleh Trump.

Amerika Serikat bergabung dengan Israel dalam menyerang Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut disebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah petinggi lainnya serta ratusan warga sipil.

Iran kemudian membalas dengan memperketat kontrol atas Selat Hormuz dan melancarkan serangan rudal serta drone terhadap negara-negara monarki Arab Teluk yang menjadi sekutu AS.

Gencatan senjata rapuh yang dimediasi Pakistan telah berlaku sejak 7 April.

Sejak saat itu, Islamabad meningkatkan upaya diplomatik untuk membantu Washington dan Tehran mencapai kesepakatan permanen guna mengakhiri konflik.

Baca juga:  AS dan Iran Rampungkan Kerangka Kesepakatan Damai, Tunggu Persetujuan Trump

(Willy Haryono)