Travel Umrah Malang Pastikan Makkah-Madinah Aman di Tengah Isu Perang

Suasana para jemaah umrah di Tanah Suci. Dokumentasi/ Hafara Tour n Travel

Travel Umrah Malang Pastikan Makkah-Madinah Aman di Tengah Isu Perang

Daviq Umar Al Faruq • 7 March 2026 15:14

Malang: Isu konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) sempat menjadi bahan perbincangan di kalangan jemaah umrah di Tanah Suci. Meski demikian, situasi di Makkah dan Madinah dipastikan tetap aman dan aktivitas ibadah berlangsung normal.

Owner Hafara Tour n Travel asal Malang, Agus Susanto, mengatakan kabar konflik tersebut memang sempat memicu kekhawatiran jemaah. Namun, kepanikan yang muncul tidak meluas dan lebih banyak menjadi topik percakapan.

“Kondisi jemaah ketika mendengar info perang Iran, Israel-Amerika itu memang ada kepanikan, tapi enggak begitu masif, hanya sebagai menjadi bahan pembicaraan saja. Yang jelas semua jemaah yang ibadah umrah Ramadan di Makkah, Madinah semuanya kondusif,” ujar Agus, Jumat, 6 Maret 2026.
 


Situasi yang relatif tenang membuat seluruh rangkaian ibadah tetap berjalan sesuai agenda. Aktivitas jemaah di dua kota suci tersebut juga tidak mengalami gangguan berarti.

“Kondusif itu artinya semua program, hampir semua program ibadah mereka semuanya jalan. Saya pastikan kondisi kota Madinah dan Makkah aman seaman-amannya, tidak terpengaruh sama sekali terhadap kondisi eskalasi yang ada di Iran, pecahnya perang Iran, Israel-Amerika,” ungkap Agus.


Suasana para jemaah umrah di Tanah Suci. Dokumentasi/ Hafara Tour n Travel

Agus mencontohkan rombongan jemaah dari travel asal Malang yang dipimpinnya berjumlah 26 orang menjalani program umrah Ramadan selama 12 hari. Rombongan berangkat pada 21 Februari dan kembali ke Indonesia pada 4 Maret tanpa kendala.

Meski demikian, Agus tidak dapat memberikan jaminan keselamatan secara menyeluruh terkait situasi geopolitik global. Ia hanya memastikan selama berada di Tanah Suci, jemaah tetap dapat beribadah dengan lancar.

“Kalau soal jaminan keselamatan, saya sebenarnya tidak bisa komentar, karena memang di Tanah Suci Makkah dan Madinah sama sekali tidak terdampak, sangat kondusif, jemaah beribadah lancar, dan normal sesuai program,” kata Agus.

Selain isu keamanan, perhatian juga tertuju pada sektor penerbangan yang menghubungkan Indonesia dengan Arab Saudi. Hingga saat ini, penerbangan langsung menuju Tanah Suci disebut masih berjalan normal tanpa pembatalan.

Maskapai seperti Lion Air, Garuda Indonesia, dan Saudi Airlines tetap melayani penerbangan langsung dari Indonesia menuju Arab Saudi. Tidak ada penutupan bandara maupun penundaan jadwal yang signifikan.


Suasana para jemaah umrah di Tanah Suci. Dokumentasi/ Hafara Tour n Travel


Agus menilai jalur penerbangan langsung relatif aman karena kemungkinan tidak melintasi wilayah udara yang terdampak konflik di kawasan Teluk. Kondisi ini membuat perjalanan udara dari Indonesia ke Arab Saudi tetap stabil.

“Yang jelas sejauh ini sejak tanggal 28 pecah perang itu sampai kemarin kami pulang tanggal 4 itu masih sangat aman. Kondisi bandara haji Jeddah sangat aman semua penerbangan tidak ada cancel. Relatif aman, semuanya aman,” jelas Agus.

Bandara kedatangan jemaah di Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah juga dilaporkan beroperasi normal. Aktivitas kedatangan dan keberangkatan jemaah umrah berlangsung seperti biasa.

Berbeda dengan penerbangan langsung, maskapai yang menggunakan rute transit justru menghadapi sejumlah kendala. Beberapa di antaranya harus menyesuaikan jadwal akibat penutupan bandara di sejumlah negara.

Maskapai seperti Qatar Airways, Emirates, Etihad Airways, Oman Air, Malaysia Airlines, hingga Scoot dilaporkan mengalami gangguan karena rute transit terdampak situasi geopolitik.

Kondisi tersebut membuat sejumlah jemaah harus tertahan lebih lama di bandara transit. Beberapa penerbangan bahkan dilaporkan mengalami pembatalan.

“Yang jadi masalah adalah penerbangan-penerbangan yang transit. Yang transit misalnya seperti Qatar Airlines, kemudian Emirates, terus Etihad, terus Oman, Malaysia Airlines, Scoot yang Singapura itu semuanya terdampak,” terang Agus.


Suasana para jemaah umrah di Tanah Suci. Dokumentasi/ Hafara Tour n Travel


Situasi ini dinilai cukup menyulitkan, baik bagi jemaah maupun penyelenggara perjalanan umrah. Penundaan penerbangan membuat sebagian jemaah harus menunggu lebih lama hingga jadwal keberangkatan berikutnya tersedia.

Melihat kondisi tersebut, Agus berharap pemerintah dapat turun tangan membantu menyelesaikan persoalan yang muncul. Terutama terkait perlindungan hak jemaah dan pengusaha travel yang terdampak pembatalan penerbangan.

“Ya kalau kita dari sisi sisi jemaah atau mungkin dari pengusaha travel ya pemerintah harus turun sebenarnya gitu kan,” ujar Agus.

Ia berharap pemerintah dapat berkomunikasi langsung dengan pihak maskapai agar memberikan kebijakan yang lebih meringankan jemaah. Salah satunya melalui pengembalian dana penuh bagi penerbangan yang dibatalkan.

“Pemerintah harus dalam tanda kutip komunikasi memberikan pressure kepada pihak maskapai gitu kan agar bisa refund. Bisa refund full payment karena ini kan force majeure kondisinya,” jelas Agus.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan membantu warga negara Indonesia (WNI) yang tertahan di bandara transit, misalnya melalui koordinasi dengan maskapai untuk menyediakan fasilitas penginapan sementara. Hal ini dinilai penting karena sebagian besar biaya perjalanan umrah, seperti tiket pesawat dan hotel, biasanya sudah dibayarkan penuh jauh hari sebelum keberangkatan.

Meski ada gangguan pada penerbangan transit, Agus memastikan penerbangan langsung dari Indonesia menuju Arab Saudi masih menjadi opsi paling aman. Selama jalur tersebut tetap dibuka, jemaah umrah dinilai masih dapat berangkat dan pulang dengan relatif lancar.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)