Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. (metrotvnews.com)
Gunung Lewotobi Laki-Laki Meletus, Warga Dilarang Beraktivitas dalam Radius 4 Km
Silvana Febiari • 4 March 2026 09:59
Flores Timur: Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) meletus, Rabu pagi, 4 Maret 2026. Warga diminta tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer (km) dari pusat erupsi.
"Erupsi terjadi pukul 08.39 WITA dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 800 meter di atas puncak atau kurang lebih 2.384 meter di atas permukaan laut," kata Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam keterangan, seperti dilansir Antara.
Ia mengkonfirmasi kolom abu letusan berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah utara serta timur laut. Secara instrumental, aktivitas tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi sekitar 47 detik.
Meski demikian, saat ini Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada Status Level II (Waspada). Masyarakat di sekitar gunung serta pengunjung atau wisatawan direkomendasikan tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.

Warga menunjukkan buah jambu mente yang rusak akibat abu vulkanis Gunung Lewotobi laki-laki di perkebunan Desa Pululera, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu, 19 Oktober 2025. ANTARA FOTO/Mega Tokan/wpa.
Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Pemerintah daerah diminta aktif menyampaikan perkembangan resmi kepada warga.
"Warga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, terutama di wilayah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote," ungkap Lana.
Bagi masyarakat yang terdampak hujan abu, Badan Geologi mengimbau penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan pernapasan akibat abu vulkanik,. Sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus berkoordinasi dengan BPBD NTT dan pemangku kepentingan setempat dalam pemantauan aktivitas gunung.