Pemerintah Yaman Klaim 150 Warga Sipil Tewas akibat Serangan Houthi

Pemerintah Yaman mengklaim 150 warga sipil tewas dan lebih dari 200 terluka akibat serangan Houthi sejak 3 September 2026. (Anadolu Agency)

Pemerintah Yaman Klaim 150 Warga Sipil Tewas akibat Serangan Houthi

Willy Haryono • 14 September 2026 19:09

Aden: Pemerintah Yaman mengklaim 150 warga sipil tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka akibat serangan kelompok Houthi di sejumlah wilayah sejak 3 September 2026.

Angka tersebut disampaikan Kementerian Hak Asasi Manusia Yaman dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan kantor berita resmi Saba pada Minggu malam.

Dikutip dari Anadolu Agency, Senin, 14 September 2026, pihak kementerian mengecam keras eskalasi militer dan dugaan pelanggaran yang dilakukan kelompok Houthi sejak 3 September di sejumlah wilayah Provinsi Taiz, Hodeidah, dan Marib.

Menurut kementerian, eskalasi tersebut melibatkan serangan rudal balistik dan drone, penembakan menggunakan berbagai jenis senjata, serta serangan terhadap wilayah berpenduduk.

Serangan juga disebut menyasar kamp-kamp pengungsian dan konvoi warga sipil yang berupaya meninggalkan wilayah pertempuran.

Pemerintah Yaman menyebut sekitar 85 ribu orang terpaksa mengungsi akibat eskalasi tersebut. Kerusakan properti juga dilaporkan menyebabkan sejumlah keluarga kehilangan rumah, mata pencaharian, dan kebutuhan dasar.

Dampak kemanusiaan bahkan disebut meluas hingga ke luar wilayah Yaman. Kementerian mengatakan sekitar 2.000 orang telah tiba di Djibouti akibat eskalasi terbaru.

Kementerian Hak Asasi Manusia Yaman menyatakan Houthi bertanggung jawab atas dugaan pelanggaran tersebut. Pemerintah kemudian mendesak komunitas internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan HAM PBB, serta Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia segera mengambil tindakan untuk menghentikan serangan terhadap warga sipil.

Pemerintah Yaman juga meminta perlindungan bagi warga yang mengungsi, kamp-kamp pengungsian, konvoi evakuasi, dan fasilitas medis.

Selain itu, pemerintah mendesak pembebasan orang-orang yang diculik maupun ditahan secara sewenang-wenang, serta meminta kejelasan mengenai nasib orang-orang yang masih hilang.

Perebutan Wilayah

Eskalasi konflik dalam beberapa hari terakhir turut mengubah peta penguasaan wilayah di Yaman.

Kelompok Houthi sebelumnya mengumumkan telah menguasai sejumlah distrik di wilayah pesisir barat Yaman serta beberapa pulau di Laut Merah, termasuk Pulau Mayyun atau yang juga dikenal sebagai Pulau Perim.

Pulau tersebut berada di Selat Bab al-Mandab, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Di sisi lain, pasukan pemerintah Yaman mengumumkan kemajuan di Provinsi Al-Jawf yang berbatasan dengan Arab Saudi. Pasukan pemerintah mengatakan mereka kini mendekati Al-Hazm, ibu kota provinsi tersebut.

Pasukan pemerintah juga mengklaim berhasil memukul mundur serangan besar Houthi di Marib.

Selain itu, mereka melaporkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran Houthi di sekitar Mokha serta wilayah Provinsi Taiz, Lahij, dan Al-Dhale. Dalam operasi tersebut, sejumlah kendaraan militer dan persenjataan disebut berhasil dihancurkan.

Klaim mengenai jumlah korban, kerusakan, dan perkembangan di medan perang tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan Houthi kembali meningkat sejak awal Juli 2026 setelah kedua pihak mengalami periode relatif tenang selama beberapa tahun.

Konflik Yaman telah berlangsung sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Pada Maret 2015, koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi kemudian melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Baca juga: Yaman Bertekad Pulihkan Institusi Negara di Tengah Perang Melawan Houthi

(Willy Haryono)