Ilustrasi. Foto: Dok Kementerian ESDM
Kementerian ESDM Sebut Mandatori B50 Hemat Devisa Sekitar Rp170 Triliun
Eko Nordiansyah • 9 September 2026 11:07
Jakarta: Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyatakan dengan tidak adanya impor solar setelah mandatori B50 negara dapat menghemat devisa hingga sekitar Rp170 triliun.
"Meningkatkan devisa negara Rp170 triliun," kata Eniya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, dikutip dari Antara, Rabu, 9 September 2026.
Menurut dia, dengan adanya mandatori B50 maka impor solar yang selama ini mencapai 18 juta kilo liter sudah dihentikan sehingga meningkatkan devisa negara.
Eniya mengatakan mandatori B50 juga berdampak pada lifting minyak, saat ini sudah bisa mencapai setengahnya dari lifting minyak 610 barel per day dan nabati menyumbang 300 ribu barel per day.
Baca Juga :
Kementerian ESDM Catat Penyaluran B50 Sudah 80%

(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Dorong pemanfaatan energi baru terbarukan
Selain itu kata dia, mandatori B50 juga berhasil meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan khususnya bahan baku dalam negeri dan menjadikan ketahanan energi lebih kuat."Kalau lifting minyak kita 610 ribu barel per day, maka lifting minyak dari nabati sudah mencapai setengahnya yaitu 300 ribu barel per day," ujar dia.
Eniya menambahkan, manfaat penggunaan biosolar juga dirasakan pada lingkungan, dari data yang ada dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 44,46 juta ton pada 2026.
"Tenaga kerja juga meningkat hingga 2,1 juta orang pada 2026, setelah mandatori B50," kata dia.
94% SPBU salurkan B50
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyatakan hingga 5 September 2026 sebanyak 6.050 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) atau 94 persen telah menyalurkan mandatori biodiesel B50, dari total 6.412 SPBU yang ada."Masih 362 SPBU yang belum menyalurkan B50 karena masih menyalurkan B40," kata Ega.
Ega mengatakan dari laporan Marketing Operation Region (MOR) yang tersebar di delapan wilayah, rata-rata sudah menyalurkan B50 di atas 90 persen hanya satu MOR yang berada di Maluku dan Papua baru 65 persen.
"Untuk di Maluku dan Papua masih menghabiskan stok B40, karena stok masih cukup banyak," ujar dia.