Jangan Terkecoh Ukuran, Simak Tips Pakar Memilih Hewan Kurban

Ilustrasi Pexels

Jangan Terkecoh Ukuran, Simak Tips Pakar Memilih Hewan Kurban

Muhamad Marup • 10 May 2026 16:31

Jakarta: Menjelang Hari Raya Iduladha, masyarakat mulai disibukkan dengan jual beli hewan kurban. Tak jarang, masyarakat tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal.

Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Lili Zalizar, mengimbau masyarakat untuk lebih teliti. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi.

Mengutip laman umm.ac.id, Lili membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana.

Amati postur hewan

Lili menerangkan, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang.

Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting.

"Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh," terangnya.

Cek keberasihan dan kesehatan

Lili melanjutkan, kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau skabies. Pilih hewan kurban dengan kulitnya mulus.

Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki.

Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi.

"Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban," katanya.

Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk.

"Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba," tuturnya.

Ilustrasi Pexels

Pastikan masa istirahat hewan

Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres.

Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD), sebuah kondisi. Kondisi tersebut membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering.

Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)