Mengenang Jejak Keindahan Desa Adat Sade

Gapura Selamat Datang Desa Adat Sade. Foto: Metrotvnews.com/Reno Panggalih Nuha

Mengenang Jejak Keindahan Desa Adat Sade

Reno Panggalih Nuha Lathifah • 2 September 2026 15:56

Lombok: Siapa sangka, Oktober 2023 menjadi momen terakhir melihat langsung keindahan Desa Adat Sade. Tiga tahun berselang, desa indah di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu ludes dilalap api. 

Banyak kenangan indah yang membekas dari perjalanan menyusuri Desa Sade tiga tahun silam. Mulai dari keramahan suku Sasak, pemandangan deretan rumah beratap ilalang, indahnya motif kain tenun, hingga keunikan oleh-oleh kopi bercampur beras.

Butuh waktu sekitar 50 menit perjalanan darat menuju Desa Adat Sade dari Kota Mataram. Kampung itu terletak tepat di tepi Jalan Raya Praya-Kuta, Rembitan, Kecamatan Pujut. 

Gapura bertuliskan Selamat Datang di Dusun Sasak Sade berdiri kokoh, seolah menyambut para pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat asli Lombok tersebut.

Desa Adat Sade sebelum kebakaran. Foto: Metrotvnews.com/Reno Panggalih Nuha

Begitu melangkah melewati gerbang, nuansa tradisional langsung menyergap lewat pemandangan deretan rumah beratap alang-alang kering. Pemandu wisata lokal serta warga suku Sasak yang anggun dan gagah mengenakan kain tenun menyambut dengan hangat. 

Telinga pengunjung langsung dimanjakan oleh dentuman Gendang Beleq, alat musik tradisional Lombok yang dimainkan secara bertabuh dengan irama rancak.

Diiringi musik, dua pria suku Sasak memasuki halaman depan kampung wisata tersebut. Mereka bertelanjang dada, hanya mengenakan balutan kain di pinggang serta ikat kepala, sembari membawa tongkat rotan dan perisai kulit kerbau. Itulah Peresean, tradisi perang rotan khas suku Sasak yang biasa digelar untuk menyambut tamu.

Para pengunjung terlihat antusias bergegas mengerumuni arena. Cekrek! suara kamera ponsel bersahut-sahutan mengabadikan momen tersebut, sementara beberapa pengunjung lain menyimak dalam ketegangan.

Meski tampak gahar, Peresean sarat akan nilai ketangkasan dan sportivitas. Pakembar atau wasit yang bertugas memimpin jalannya laga, memastikan pepadu (petarung) hanya mengincar bagian tubuh atas dan dilarang keras menyerang area di bawah pinggang.

Pemenang ditentukan dari raihan skor tertinggi setelah bertarung, atau jika salah satu pepadu menyerah. Namun, untuk pertunjukan wisatawan, suasana dibuat tetap aman dan ramah, tak ada luka atau darah. Bahkan, pengunjung diberi kesempatan menjajal Peresean tanpa harus melepas baju, tentu dengan ayunan rotan yang santai dan penuh gelak tawa.

Setelah menyaksikan pertunjukan Peresean, pengunjung diajak menyusuri area dalam desa. Deretan rumah beratap ilalang menyambut dengan keunikannya. Di sepanjang lorong, berbagai kerajinan tangan khas suku Sasak tertata rapi, sementara para perempuan suku Sasak tampak tekun menenun kain di depan teras rumah mereka.

Desa Adat Sade sebelum kebakaran. Foto: Metrotvnews.com/Reno Panggalih Nuha

Rumah Adat Desa Sade

Kesan pertama saat melihat permukiman Sade adalah bagian atap rumah yang cukup rendah, belakangan diketahui jaraknya hanya sekitar 1,5 - 2 meter. Pemandu menjelaskan bahwa bentuk atap yang sengaja dibuat rendah ini mengharuskan setiap tamu menundukkan tubuh saat melangkah masuk. 

Gerakan tersebut sarat makna budaya, yaitu sebagai simbol kerendahan hati, penghormatan, dan bentuk kesopanan kepada pemilik rumah.

Tradisi Belulut, Melapisi Lantai dengan Kotoran Sapi

Salah satu tradisi yang mungkin terdengar unik bagi pengunjung adalah belulut, yaitu kebiasaan melapisi lantai rumah menggunakan kotoran sapi. Kotoran sapi dicampur dengan sedikit air, lalu digosokkan secara merata ke permukaan lantai. Setelah mengering, lantainya dipoles menggunakan batu hingga menjadi lebih padat.

Bagi masyarakat Sade, cara ini dipercaya membantu mengurangi debu dan mencegah lantai retak. Masyarakat juga meyakini lapisan tersebut dapat mengusir serangga sekaligus menangkal kekuatan magis.

Warga di Desa Sade sedang menenun. Foto: Metrotvnews.com/Reno Panggalih Nuha

Kain Tenun Sade

Di sepanjang sudut Desa Sade, perempuan yang tengah menenun menjadi pemandangan yang hampir selalu dijumpai. Siapa pun yang melintas dapat menyaksikan secara langsung ketelitian proses pembuatannya dari dekat.

Keahlian ini terjaga turun menurun karena setiap perempuan di Sade diwajibkan belajar menenun sejak berusia sembilan tahun. Terdapat tradisi unik yang menetapkan bahwa seorang gadis baru dianggap dewasa dan siap menikah apabila telah mahir menenun secara mandiri.

Proses pembuatannya dilakukan secara manual menggunakan alat tenun tradisional dari kayu dan bambu. Pengerjaannya membutuhkan kesabaran ekstra, memakan waktu mulai dari beberapa minggu hingga berbulan-bulan tergantung tingkat kerumitan pola.

Kopi Hitam Campur Beras

Selain kain tenun, Sade memiliki daya pikat lain yang tak kalah menarik, yakni kopi hitam khas Suku Sasak. Uniknya, racikan kopi ini dibuat dengan campuran beras.

Biji kopi dan beras disangrai bersamaan hingga matang sempurna, lalu ditumbuk menggunakan lesung serta alu kayu. Perpaduan ini menghasilkan bubuk kopi hitam pekat dengan aroma gurih khas beras sangrai dan cita rasa yang mantap.

Tradisi meracik kopi tersebut berasal dari gaya hidup masyarakat setempat yang mayoritas bekerja sebagai petani. Tambahan beras dipercaya mampu memberikan efek kenyang dan dorongan energi ekstra sebelum mereka beraktivitas seharian di sawah.

Kehidupan Warga Sade

Sebagian besar warga yang beraktivitas di dalam desa saat siang hari adalah perempuan, sebab para pria suku Sasak pergi bekerja sebagai petani dan peternak. Meski begitu, sosok pria tetap terlihat dalam peran lain, seperti pemandu wisata atau pengrajin gelang akar bahar.

Kerajinan akar bahar ini juga tak kalah menarik. Di tangan para pengrajin Desa Sade, akar bahar diolah menjadi berbagai aksesoris seperti gelang, cincin, tasbih, hingga tongkat.

Puas mengamati keseharian warga serta berburu aneka hasil kerajinan tangan, perjalanan pun berlanjut ke satu titik tertinggi di Desa Sade untuk menikmati pemandangan keseluruhan kampung. 

Mereka yang naik ke lokasi itu harus mengenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman untuk mendaki karena lanskap yang berundak-undak mengikuti kontur tanah. Dari ketinggian tersebut, seluruh pesona kampung adat ini terlihat indah sebelum akhirnya pengunjung melangkah turun menuju pintu keluar. 

Begitu selesai menyusuri setiap sudut permukiman, gapura bertuliskan Matur Tampi Asih yang berarti Terima Kasih Banyak dalam bahasa Sasak, melepas kepulangan para pengunjung dan mengakhiri perjalanan dengan pengalaman berkesan serta oleh-oleh khas dari Desa Sade.

Desa Adat Sade pascakebakaran. Foto: Dok Kemenbud.

Musibah Kebakaran

Sade yang menyimpan sejarah hidup selama 600 tahun itu lenyap berubah menjadi kobaran api pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Kebakaran hebat melanda Desa Adat Sade. 

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mencatat 75 rumah adat dan 69 artshop hangus terbakar dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp34 miliar. Sementara itu, Kementerian Kebudayaan mencatat total 167 bangunan terdampak. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Meski demikian, sejumlah benda pusaka, naskah kuno, kain tenun, hingga alat ritual turut musnah.

Tragedi yang terjadi di tengah malam itu mengubah Desa Sade yang tadinya riuh dengan wisatawan dan situs budaya bernilai ratusan tahun menjadi hamparan puing dan abu, menyisakan warga tanpa tempat tinggal. 

Bagi para pengunjung yang pernah singgah, peristiwa ini membawa duka yang mendalam. Meski kenangan para wisatawan tidak ada apanya jika dibandingkan kehilangan yang dialami warga Sade, merawat ingatan tentang keutuhan desa ini menjadi cara sederhana untuk menghargai apa yang masih tersisa.

(Arga Sumantri)