Kisah Penyintas Terorisme Menemukan Makna Baru Setelah Tragedi

Acara Talkshow 'Dari Luka Menjadi Kekuatan: Negara Hadir, Penyintas Bangkit' di The Tribrata, Jumat, 21 Agustus 2026. Dokumentasi/ istimewa.

Kisah Penyintas Terorisme Menemukan Makna Baru Setelah Tragedi

Deny Irwanto • 22 August 2026 23:06

Jakarta: Pemulihan setelah mengalami aksi terorisme tidak selalu berjalan singkat. Bagi penyintas, luka akibat sebuah tragedi dapat meninggalkan pengalaman panjang yang menyentuh kondisi fisik, psikologis, hingga kehidupan sosial.

Pengalaman tersebut dirasakan Tony Soemarno, penyintas Bom Hotel J.W. Marriott 2003. Ia mengaku membutuhkan waktu untuk bangkit dan kembali menata kehidupannya setelah mengalami peristiwa terorisme.

“Awalnya sangat sulit untuk bangkit. Namun, saya sampai pada satu titik di mana saya berpikir bahwa pelaku teror pun manusia yang bisa berbuat salah. Saya memilih untuk saling memaafkan dan tidak ingin menyimpan dendam, karena hati yang damai adalah apa yang Tuhan kehendaki,” kata Tony dalam acara Talkshow 'Dari Luka Menjadi Kekuatan: Negara Hadir, Penyintas Bangkit' di The Tribrata, Jumat, 21 Agustus 2026.

Bagi Tony, proses tersebut tidak hanya berkaitan dengan upaya mengatasi trauma. Dukungan dan pendampingan yang diterima penyintas juga menjadi bagian penting untuk membantu mereka kembali merasa aman dan menjalani kehidupan secara lebih utuh.

Seiring waktu, Tony mulai memandang pengalaman yang dialaminya dari sudut pandang berbeda. Ia tidak ingin selamanya menempatkan dirinya sebagai korban, tetapi berusaha menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran sekaligus pesan perdamaian.


Acara Talkshow 'Dari Luka Menjadi Kekuatan: Negara Hadir, Penyintas Bangkit' di The Tribrata, Jumat, 21 Agustus 2026. Dokumentasi/ istimewa.

Berdamai dengan Masa Lalu


Dengan dukungan dan pendampingan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), pengalaman Tony kemudian dituangkan dalam buku The Power of Forgiveness. Ia juga mengambil langkah untuk bertemu langsung dengan narapidana terorisme di lembaga pemasyarakatan.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Tony dalam memahami kembali pengalaman masa lalu. Baginya, memaafkan bukan berarti melupakan tragedi yang pernah terjadi, melainkan berusaha agar pengalaman tersebut tidak berubah menjadi kebencian yang terus berlanjut.

Kisah pemulihan juga datang dari Mariane Ka'awoan, penyintas Bom Pasar Tentena, Poso, pada 2005. Seperti Tony, Mariane memandang proses pemulihan bukan sebagai upaya menghapus ingatan terhadap peristiwa yang pernah dialaminya.

Menurut Mariane, pengalaman masa lalu perlu dimaknai dengan tepat agar tidak berkembang menjadi kebencian yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Kalau saya tidak memaafkan, saya tidak akan memiliki kedamaian dan sukacita. Kebencian tidak pernah mewariskan kedamaian,” tegas Mariane.

Dukungan bagi Perjalanan Penyintas


Kisah Tony dan Mariane memperlihatkan proses pemulihan penyintas tidak berhenti pada penanganan setelah sebuah peristiwa terjadi. Dukungan dalam jangka panjang juga dibutuhkan agar penyintas dapat memperoleh kembali rasa aman, memenuhi haknya, dan menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Kehadiran negara melalui pendampingan dan pemenuhan hak menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Dukungan yang diberikan diharapkan dapat membantu penyintas melewati pengalaman traumatis sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk kembali berkontribusi.

Semangat itu terangkum dalam tema Healing Through Memories. Mengingat masa lalu tidak selalu berarti kembali terjebak dalam luka. Bagi para penyintas, ingatan terhadap pengalaman pahit dapat menjadi bagian dari proses untuk memahami kehidupan dan membangun masa depan.

Momentum Peringatan Hari Internasional Korban Terorisme 2026 juga menjadi pengingat pentingnya memberikan perhatian kepada penyintas. Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan kondisi setelah sebuah tragedi, tetapi juga perjalanan panjang untuk kembali menemukan rasa aman, kepercayaan diri, dan makna kehidupan.

Pengalaman Tony dan Mariane menunjukkan bagaimana perjalanan tersebut dapat mengambil bentuk yang berbeda pada setiap penyintas. Ada yang menemukan kekuatan melalui proses memaafkan, sementara lainnya memilih menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pengingat untuk menjaga perdamaian.

Pada akhirnya, pemulihan bukan berarti menghapus kenangan. Bagi penyintas, masa lalu dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk bangkit dan membangun kehidupan baru.

 

(Deny Irwanto)