Desa Sade, dok: Instagram @sinta_saliandraa8
Kebakaran di Desa Sade, Ini 5 Tradisi Suku Sasak yang Masih Lestari
Putri Purnama Sari • 23 August 2026 18:12
Jakarta: Desa Sade di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dikenal sebagai salah satu kampung adat Suku Sasak yang masih mempertahankan kehidupan dan tradisi leluhur.
Kawasan tersebut menjadi sorotan setelah kebakaran melanda rumah adat Sade pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Peristiwa itu berdampak terhadap ratusan warga dan menyebabkan puluhan bangunan terbakar.
Di balik peristiwa tersebut, Desa Sade memiliki kekayaan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kehidupan masyarakatnya masih mempertahankan sejumlah tradisi, mulai dari menenun hingga adat perkawinan.
Tradisi Suku Sasak yang Masih Dilestarikan di Desa Sade
.jpg)
Desa Sade, dok: Instagram @sinta_saliandraa8
1. Tradisi Menenun
Salah satu tradisi yang paling dikenal dari masyarakat Desa Sade adalah menenun. Keterampilan membuat kain secara tradisional tersebut diwariskan dari generasi ke generasi.
Menenun tidak hanya menjadi aktivitas untuk menghasilkan kain, tetapi juga bagian dari upaya masyarakat mempertahankan warisan budaya Suku Sasak.
Kain hasil tenunan biasanya memiliki motif dan corak yang mencerminkan kekayaan budaya masyarakat Lombok. Aktivitas menenun juga menjadi salah satu hal yang dapat ditemui wisatawan ketika berkunjung ke Desa Sade.
2. Merariq
Masyarakat Suku Sasak memiliki tradisi perkawinan yang dikenal dengan istilah merariq. Tradisi ini menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Sasak.
Mengutip dari unair.ac.id, Merariq adalah istilah yang merujuk pada proses pernikahan di mana seorang pemuda menculik seorang gadis untuk dijadikan istri. Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk identitas budaya Suku Sasak yang masih dikenal hingga saat ini.
3. Mempertahankan Rumah Tradisional
Rumah tradisional menjadi salah satu ciri khas Desa Sade. Bangunan rumah di kawasan tersebut menggunakan berbagai material alami dan memiliki bentuk yang berbeda dari rumah modern.
Material seperti bambu, kayu, dan alang-alang digunakan dalam pembangunan rumah tradisional. Atap rumah umumnya menggunakan alang-alang, sedangkan bagian lainnya memanfaatkan material alami.
Keberadaan rumah tradisional bukan sekadar menjadi daya tarik wisata. Bangunan tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan menjadi salah satu bentuk pelestarian arsitektur tradisional Suku Sasak.
4. Menjaga Gotong Royong dan Kehidupan Komunal
Kehidupan masyarakat di kampung adat Sade juga tidak terlepas dari nilai kebersamaan dan gotong royong.
Sebagai sebuah komunitas adat, masyarakat menjalankan kehidupan sosial dengan tetap mempertahankan hubungan antarkeluarga dan lingkungan sekitar. Nilai kebersamaan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Tradisi hidup secara komunal juga menjadi salah satu unsur yang membuat Desa Sade tidak sekadar dikenal karena bangunan rumah adatnya, tetapi juga karena kehidupan masyarakatnya.
5. Melestarikan Kesenian dan Kerajinan Lokal
Selain menenun, masyarakat Suku Sasak di Desa Sade juga mempertahankan berbagai bentuk kesenian dan kerajinan lokal.
Kerajinan yang dibuat masyarakat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sekaligus sarana memperkenalkan budaya Sasak kepada wisatawan. Produk kerajinan tersebut juga menunjukkan keterampilan masyarakat dalam mengolah bahan dan menghasilkan karya yang memiliki nilai budaya.
Kesenian dan kerajinan lokal menjadi bagian penting dalam menjaga agar pengetahuan tradisional tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Desa Sade Bukan Sekadar Destinasi Wisata
Desa Sade selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Lombok. Wisatawan dapat melihat langsung rumah tradisional, aktivitas menenun, kerajinan lokal, serta kehidupan masyarakat Suku Sasak.
Namun, nilai Desa Sade tidak hanya terletak pada sektor pariwisata. Kawasan tersebut merupakan ruang hidup masyarakat yang mempertahankan berbagai warisan budaya secara turun-temurun.
Kebakaran yang melanda kawasan rumah adat Sade pada 22 Agustus 2026 menjadi pengingat pentingnya menjaga keberadaan kampung adat dan warisan budaya di dalamnya.
Pelestarian Desa Sade tidak hanya berarti mempertahankan bangunan tradisional, tetapi juga menjaga tradisi, pengetahuan, kesenian, kerajinan, serta kehidupan masyarakat Suku Sasak agar tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.