Prospek Industri Air Minum dalam Kemasan Diyakini Tumbuh Positif

Ilustrasi. Dok Istimewa.

Prospek Industri Air Minum dalam Kemasan Diyakini Tumbuh Positif

Arga Sumantri • 6 January 2026 22:47

Jakarta: Ketua Umum Asosiasi Produsen Air Kemasan Nusantara (Amdatara) Karyanto Wibowo menilai 2026 akan menjadi momentum penting bagi industri air minum dalam kemasan (AMDK) nasional. Industri ini dinilai memiliki prospek yang positif.

"Tahun 2026 merupakan periode krusial bagi industri air minum dalam kemasan untuk menunjukkan ketahanan dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi yang stabil perlu diiringi dengan peningkatan efisiensi produksi, penguatan rantai pasok, serta inovasi produk," ujar Karyanto dalam keterangannya, Selasa, 6 Januari 2026.

Menurut Karyanto, kehadiran Amdatara sebagai asosiasi baru di industri AMDK bertujuan memperkuat konsolidasi pelaku usaha. Organisasi ini hadir sebagai wadah kolaborasi produsen air kemasan untuk membangun industri yang berdaya saing, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. 

"Sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," kata Karyanto.

Secara historis, industri AMDK di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif konsisten dalam satu dekade terakhir. Hal ini didorong oleh pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya akses air minum yang aman.

Momentum pertumbuhan ekonomi

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menunjukkan arah yang lebih stabil dan optimistis, menjadi fondasi penting bagi pelaku industri manufaktur, termasuk sektor AMDK. Pemerintah dan asosiasi pelaku usaha menilai konsumsi domestik masih akan menjadi penggerak utama perekonomian nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan target tersebut didorong oleh penguatan konsumsi rumah tangga, investasi sektor riil, serta keberlanjutan reformasi struktural ekonomi nasional. Ia juga menekankan pentingnya penguatan permintaan domestik, peningkatan daya saing industri nasional, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif sebagai kunci menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada 2026.

Ilustrasi. Dok PDAM Info.

Dari sisi dunia usaha, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen. Konsumsi domestik dinilai masih menjadi penopang utama pertumbuhan, khususnya pada awal tahun yang dipengaruhi momentum hari besar keagamaan dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menilai stabilitas ekonomi makro yang terjaga akan memperkuat iklim usaha nasional. Kadin optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap dapat berada di atas 5 persen sepanjang 2026 apabila sinergi antara kebijakan pemerintah dan dunia usaha terus diperkuat.

Dalam konteks tersebut, sektor manufaktur, khususnya industri makanan dan minuman, dipandang memiliki prospek yang positif. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman menyampaikan permintaan produk makanan dan minuman masih tumbuh seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat dan kesadaran terhadap kualitas serta keamanan produk.

Industri AMDK sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman diperkirakan turut menikmati dampak positif dari pertumbuhan ekonomi nasional. Kebutuhan masyarakat terhadap air minum yang aman, higienis, dan mudah diakses menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan industri ini.

Dari sisi kebijakan industri, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan sektor makanan dan minuman merupakan salah satu tulang punggung industri pengolahan nonmigas. Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan kapasitas produksi, penerapan standar mutu, serta transformasi industri yang berkelanjutan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)