AS dan Iran Berbeda Tafsir soal Kesepakatan Damai, Israel Khawatir

Bendera Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu Agency)

AS dan Iran Berbeda Tafsir soal Kesepakatan Damai, Israel Khawatir

Muhammad Reyhansyah • 15 June 2026 16:39

Jakarta: Amerika Serikat (AS) dan Iran menyampaikan narasi berbeda terkait kesepakatan damai yang telah diumumkan untuk mengakhiri konflik selama berbulan-bulan, dan di saat yang sama, Israel menyuarakan kekhawatiran mengenai dampak perjanjian tersebut terhadap keamanan nasionalnya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu, 14 Juni 2026, menyatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran telah disepakati, yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta berakhirnya blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran.

Pernyataan serupa disampaikan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang mengatakan Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan setelah melalui negosiasi intensif yang dimediasi Pakistan dan Qatar.

Namun, pejabat Iran memberikan gambaran yang berbeda.

Melansir Anadolu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan teks akhir kesepakatan memang telah disepakati, tetapi baru akan ditandatangani secara resmi di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni mendatang.

Ia menambahkan seluruh posisi utama Iran telah dimasukkan ke dalam rancangan memorandum dan isi lengkap dokumen akan dipublikasikan setelah penandatanganan resmi.

Menurut Gharibabadi, pencabutan seluruh sanksi terhadap Iran, termasuk sanksi primer dan sekunder Amerika Serikat serta resolusi Dewan Keamanan PBB, akan menjadi bagian dari negosiasi lanjutan selama 60 hari.

Ia juga menegaskan pembahasan isu nuklir baru akan dimulai setelah Iran memverifikasi komitmen Washington terkait penghentian perang, pencabutan blokade, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.

Perbedaan Besar soal Program Nuklir

Perbedaan paling mencolok antara kedua pihak terletak pada isu program nuklir Iran.

Seorang pejabat pemerintahan Trump mengatakan rancangan kesepakatan mencakup penghapusan dan penghancuran material nuklir Iran serta pembongkaran program nuklir negara tersebut, dengan pencabutan sanksi bergantung pada kepatuhan yang dapat diverifikasi.

Sebaliknya, media pemerintah Iran melaporkan Teheran tidak menerima kewajiban nuklir baru dalam kesepakatan tersebut.

Kantor berita resmi Iran (IRNA), menyebut seluruh isu nuklir akan dibahas dalam periode negosiasi 60 hari setelah penandatanganan memorandum.

Perbedaan juga terlihat dalam status kesepakatan itu sendiri.

Trump berulang kali menyatakan kesepakatan telah selesai, sementara pejabat Iran menegaskan perjanjian tersebut belum resmi ditandatangani dan berbagai ketentuan penting baru akan berlaku setelah mekanisme implementasi serta verifikasi disepakati.

Ketidakpastian Nasib Konflik Israel-Lebanon

Masa depan Lebanon dan kelompok Hizbullah juga menjadi salah satu isu yang belum jelas dalam kesepakatan tersebut. Trump, pejabat Pakistan, dan perwakilan Iran menyebut kesepakatan mencakup seluruh front konflik, termasuk Lebanon.

Namun Israel menegaskan konflik dengan Hizbullah merupakan isu terpisah dari kesepakatan antara Washington dan Teheran.

Pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan mendukung upaya mengakhiri permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi memperingatkan bahwa beberapa ketentuan dalam kesepakatan dapat mengancam keamanan Israel.

Pejabat Israel juga menegaskan perjanjian tersebut tidak membatasi kemampuan Tel Aviv untuk merespons ancaman dari Hizbullah.

Media Israel bahkan menyoroti meningkatnya ketegangan antara Trump dan Netanyahu dalam beberapa pekan terakhir.

Laporan media setempat menyebut Trump mengkritik serangan udara Israel di Beirut karena dilakukan ketika Washington dan Teheran sedang berada di ambang kesepakatan damai.

Sejumlah pejabat Israel khawatir Iran memperoleh terlalu banyak konsesi tanpa memberikan komitmen yang memadai terkait program nuklirnya. Mereka juga mempertanyakan apakah isu Hizbullah telah diakomodasi secara memadai dalam perjanjian tersebut.

Perbedaan narasi antara Washington dan Teheran menunjukkan masih adanya sejumlah persoalan mendasar yang belum terselesaikan menjelang rencana penandatanganan kesepakatan di Jenewa pada 19 Juni mendatang.

Baca juga:  AS-Iran Sepakati MoU Perdamaian, Apa Isi dan Dampaknya bagi Konflik Timur Tengah?

(Willy Haryono)