Seluruh Wilayah DIY Berstatus Awas Kekeringan

Peta kondisi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. ANTARA/HO-Staklim BMKG Yogyakarta

Seluruh Wilayah DIY Berstatus Awas Kekeringan

Silvana Febiari • 10 September 2026 23:13

Yogyakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Yogyakarta menyebut seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berada dalam status awas dalam peringatan dini kekeringan meteorologis. Kondisi ini dipengaruhi aktifnya Monsun Australia.

"Peringatan dini kekeringan meteorologis DIY pada Dasarian I September 2026 berada dalam status awas di seluruh wilayah DIY," kata Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Mamenun, dilansir dari Antara, Kamis, 10 September 2026. 

Kondisi tersebut didasarkan pada pengamatan gejala fisis serta data dinamika atmosfer dan laut terkini. Data menunjukkan angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator bertiup dari timur, yang mengindikasikan Monsun Australia sedang aktif.


"Indeks El Nino Southern Oscillatio (ENSO) dalam kondisi sangat kuat, kondisi tersebut berpeluang terjadi hingga awal tahun 2027," ujarnya.

Dia mengatakan Dipole Mode Indeks (DMI) berada dalam kategori netral, DMI positif berpeluang terjadi September sampai Desember 2026. Sementara Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia.

"Analisis anomali suhu muka air laut di perairan selatan DIY antara -0,5 derajat sampai +1,0 derajat Celcius (kategori netral sampai hangat) dengan suhu berkisar antara 26 derajat sampai 28 derajat Celcius," jelasnya.


Ilustrasi kekeringan. Foto: Antara.


Atas kondisi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau.

"Terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, seperti kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih," ucapnya.

Hal ini berkaitan dengan aktivitas El Nino kategori sangat kuat yang berpeluang berlangsung hingga awal Januari 2027. Kondisi tersebut dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang musim kemarau di DIY.

"Sehubungan dengan potensi kekeringan meteorologis DIY pada Dasarian I September 2026 dalam status awas, masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan dapat mengantisipasi melalui pengelolaan sumber daya air secara efisien dan penyesuaian kegiatan sesuai kondisi wilayah," ungkapnya.

BMKG Yogyakarta juga mengimbau semua elemen mewaspadai prediksi sifat hujan musim kemarau 2026 di bawah normal (BN).

"Yang artinya kondisi musim kemarau diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya. El Nino dapat mengakibatkan kekeringan yang berpeluang terjadi hingga Desember 2026," tutupnya.

(Silvana Febiari)